Kamis, 25 Juli 2024 17:53 WIB

Pemuda, Kepemimpinan, dan Kebangsaan Kita


  • Sabtu, 28 Oktober 2023 19:14 WIB

Oleh: Mohamad Fathollah, Esais tinggal di Sumenep

NAHDLIYIN.COM – “Sejarah indonesia itu adalah sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu!!” (Pramoedya Ananta Toer). Kepemimpinan pemuda tidak terlepas dari sejarah. Bangkitnya Budi Utomo pada 1908 atau bersatunya seluruh pemuda dari berbagai penjuru  tanah air pada 28 Oktober 1928 dapat menjadi titik balik bangkitnya semangat nasionalisme. Dan pada satu abad kemudian berkat para pemuda dan seluruh elemen bangsa membangkitkan kembali rasa nasionalisme tersebut dengan runtuhnya otoritianisme Soeharto pada 1998.

Setelah rotasi kepemimpinan berganti hingga kini pemuda semakin menampakkan taringnya. Yang dahulunya pemuda hanya bisa berdiri di garis perlawanan dan demonstrasi jalanan, kini tidak sedikit kita dapat saksikan pemuda duduk di kursi kepemerintahan. Di tingkatan lesilatif misalnya, yang duduk di kursi panas hasil pemilu 2009 lalu banyak diantara mereka dari kalangan muda. 

Semangat pemuda adalah semangat kekar, visioner, pekerja keras, serta mempunyai nilai positif bagi kemajuan bangsa. Namun yang patut diperbincangkan kini adalah nilai dan tanggung jawab mereka terhadap rakyat dan bangsa.

Semangat progresif

Pemimimpin idealis sangatlah diperlukan demi menjawab kecemasan-kecemasan rakyat terhadap figur pemimpinnya. Pemimpin idealis, dinamis, progressif, dan populis merupakan semangat baru bagi perubahan dan pencerahan bangsa.

Semangat tersebut tentunya bukanlah semangat instan yang sengaja diciptakan. Semangat progresif yang teraplikasi dalam gerak massif merupakan salah satu penentu awal bagi perkembangan dan pembangunan  bangsa yang humanis. Kalau boleh dibilang pengejewantahan semangat 45 dapat kita lahirkan kembali sebagai ibu kandung perubahan. Hal itu dapat kita temukan pada gerakan kaum muda idealis. 

Semangat progresif kaum muda penting kiranya dalam membangun negeri ini. Tentunya kaum muda yang tidak utopis dan pragmatis, yang hanya meneriakkan jargon ‘saatnya kaum muda memimpin’ akan tetapi ujung-ujungnya tidak lebih sama; uang dan jabatan.

Muda, Melawan

Gerakan generasi muda terlihat dari berbagai peristiwa penting yang melatarbelakangi negara kesatuan Indonesia. Kharisma bangsa di berbagai belahan dunia dibangun dengan jerih payah jasmani dan rohani kaum mudanya. Di Indonesia kepemimpinan agresif dan progresif dapat bercermin pada Soekarno, Mohammad Natsir, Samaoen, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Soewardi Soerjaningrat, dan lainnya. 

Kepemimpinan mereka dimulai sejak usia sangat muda. Dengan semangat menggebu-gebu, mereka rela menafkahkan diri dan bahkan nyawa demi tegaknya jati diri bangsa yang telah lama tercabik-cabik oleh bangsa kolonial. Pekikan revolusi mereka gaungkan ke berbagai penjuru negeri hanya demi satu kata; merdeka.

Dilain pihak untuk menghadirkan kaum muda dinamis tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akibat laten globalisasi yang merambah kota hingga desa perlahan telah menjangkiti kaum muda kita kini. Prilaku hedonis kapitalistik dapat kita jumpai disekitar lingkungan kita. Prilaku tersebut acapkali menafikan proses kehidupan. Sehingga kehidupan yang semestinya progresif menatap masa depan cenderung individualistik dan dibuat have fun.

Rejufinasi (peremajaan) kepemimpinan yang di idam-idamkan rakyat dalam rangka mengawali perubahan bukanlah kaum muda yang tanpa “taring”. Bukanlah kaum muda yang mendewakan pragmatisme dan materialisme. Akan tetapi kaum yang muda secara fisik, semangat, dan pikiran brilian dalam menentukan arah kebijakan kepemerintahan yang sinergis.

Rejufinasi tersebut tidak hanya pada pemuda yang tubuhnya kekar, akan tetapi secara substantif mempunyai nilai ke-pemuda-an seperti halnya bergolaranya sumpah pemuda pada 1928 lampau. Berarti orang dengan umur yang telah tua dapat menjadi pemuda kala ia dapat menelorkan berbagai produktifitas dan kreatifitas baik dalam kepemimpinan ataupun dalam realitas sosial dan kebangsaan.

Kepemimpinan kaum muda bukan sebatas mengetengahkan wacana absurd, namun ada hal penting mengapa (semangat) kaum muda diharapkan memimpin bangsa yang selalu krisis ini. Pertama, kaum muda agresif. Agresifitas yang ditimbulkannya dapat terlihat pada semangat yang berkobar-kobar, berani menyatakan sikap,  berani bertindak (walaupun beresiko), berani memperjuangkan kebenaran yang tertelikung, berani merombak segala kebobrokan sistem tanpa teding aling-aling dan terpenting adalah pemuda  yang tidak bercirikan unmove mover (penggerak yang tidak dapat bergerak).

Kedua, kaum muda cenderung dinamis. Seperti halnya pergolakan nasionalisme yang ditimbulkan pemuda pada 28 Oktober 1928. Mereka rela datang berduyun-duyun dari berbagai pelosok negeri hanya demi menyatukan suara meneriakkan slogan bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

Realisasi sumpah pemuda dapat dapat kita jewantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka, sebagai pemuda marilah kita kembali bersumpah; bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Berbangsa satu Bangsa yang gandrung akan keadilan, berbahasa satu bahasa kebenaran. Dinamisme kepemudaan mensyaratkan bangsa yang gandrung akan keadilan.

Dan semangat muda dapat terlihat dari sikap dan gerakannya yang tidak lemah dan lamban dalam bertindak. Mereka selalu sigap dan mawas menghadapi segala rintangan dengan berani dan bertanggung jawab. Selain itu, energi yang ditimbulkannya perlahan akan menular pada lingkungan sekitarnya.  Maka optimisme kepemimpinan berada di tangan kaum muda yang selalu bergerak dinamis, idealis, dan progresif. Bukan kaum muda yang mengekor pada keluarganya. 



ARTIKEL TERKAIT