Rabu, 24 Juni 2026 15:00 WIB

Ketum PBNU Gus Yahya Sowan ke Pesantren Besuk Pasuruan, Sambung Sanad Keilmuan


  • Jum'at, 03 Oktober 2025 14:50 WIB

NAHDLIYIN.COM, Pasuruan – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), melanjutkan agenda silaturahmi ke para masyayikh. Rabu (1/10/2025), Gus Yahya bersama Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni sowan ke Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Besuk, Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur.

Kedatangan rombongan PBNU disambut hangat oleh KH Muhibbul Aman Aly, pengasuh Pesantren Besuk sekaligus Rais Syuriah PBNU. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan penghormatannya terhadap peran penting pesantren Besuk dalam sejarah pendidikan Islam di Nusantara.

“Pondok Pesantren Besuk Pasuruan masyhur sebagai pesantren bersimbah tradisi keilmuan yang kokoh. Dari sini lahir jumhūr ulamā’ yang mewarnai corak perjalanan NU sekaligus memperkaya khazanah Islam di Nusantara,” ujar Gus Yahya.

Selain sowan ke KH Muhibbul Aman Aly, rombongan juga bersilaturahmi dengan KH Imron Mutamakkin, Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan. Pertemuan berlangsung penuh takzim, menyambung sanad keilmuan sekaligus meneguhkan wadzīfah khidmah bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Sekilas tentang Pondok Pesantren Besuk

Pesantren Besuk didirikan pada tahun 1881 oleh KH Aly Murtadlo dan hingga kini dikenal sebagai salah satu pesantren salaf tertua di Pasuruan. Tradisi pengajaran kitab-kitab klasik, musyawarah, sorogan, hingga tahfidz al-Qur’an masih dijaga ketat, diiringi dengan pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah dan Mu’allimin.

Dengan santri yang kini mencapai ribuan, Pesantren Besuk tidak hanya melahirkan kader-kader ulama berpengaruh dalam bidang fikih, hisab-falaq, dan bahthul masail, tetapi juga menjadi pusat penyebaran khazanah keilmuan Islam di Jawa Timur. Hingga saat ini, bangunan asrama tua peninggalan pendiri masih dipertahankan sebagai simbol warisan sejarah yang hidup.

“Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para masyayikh dan memberkahi perjuangan kita bersama. Āmīn yā rabbal-‘ālamīn,” tutup Gus Yahya.
 



ARTIKEL TERKAIT