Jum'at, 24 Mei 2024 20:42 WIB

Raih Penghargaan Pesantren Tua Versi PBNU, Inilah Sejarah Perjuangan PP Cipulus


  • Rabu, 01 Februari 2023 07:10 WIB

Dalam rangka menyongsong 1 Abad NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberi penghargaan kepada sejumlah Pondok Pesantren tua di Indonesia yang sudah mengabdi lebih dari 1 Abad. Penyerahan di berikan di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta, pada Selasa (31/1/2023) malam. 

Pondok Pesantren Al Hikmussalafiyah, Cipulus, Purwakarta (PP Cipulus) salah satu peraih penghargaan tersebut.  Dalam catatan sejarah, PP Cipulus pertama kali berdiri pada tahun 1840, didirikan oleh KH. Muhammad/ Ahmad Bin Kyai Nurkoyyim yang akrab dengan panggilan Ajengan Emed. Pesantren sederhana ini didirikannya di wilayah bekas ibukota Karawang, di Kecamatan Wanayasa, Purwakarta sekarang.

Ajengan Emed adalah santri kesayangan Syeikh Maulana Yusuf Purwakarta yakni ulama dan pahlawan besar di Jawa Barat pada awal abad ke 19, Ajengan Emed adalah santri yang rajin, memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, sehingga Beliau dapat dengan mudah menyerap ilmu-ilmu yang diberikan oleh gurunya, baik ilmu agama maupun ilmu strategi perang dan ilmu-ilmu lainnya yang dibutuhkan saat itu. 

PP Cipuus di pimpin oleh Ajengan Emed hingga akhir hayatnya, setelah Beliau wafat pesantren tersebut diteruskan oleh K.H Nashir (1870-1900) K.H. M. Arief (1900-1920) Kyai Syu’eib (1920-1937) K.H. Masduki (1937-1942) dan K.H. Zaenal Abidin (1942-1957).

Pengasuh Pesantren Cipulus, H Hadi M Musa Said mengucapkan rasa syukur dan berterima kasih kepada PBNU yang telah menyelenggarakan acara penganugerahan ini. Menurutnya, perhelatan ini berhasil membuktikan bahwa pesantren telah lama berperan jauh sebelum kemerdekaan. 

Ia juga menjelaskan perjalanan membangun pesantren ini tidaklah mudah, menurutnya, rintangan demi rintangan dihadapi bahkan pada 1957 M Pesantren Cipulus sempat bubar karena adanya gangguan keamanan dari DI/TII sedang berkecamuk.

"Pada saat itu, pesantren dibubarkan demi keamanan dan keselamatan santri. Pembubaran itu diputuskan oleh pengasuh pesantren generasi ke-6, KH Zainal Abidin," ucap M Musa Said. 

Kemudia pada tahun 1963 setelah situasi aman, K.H ‘Izzuddin sepulangnya menunaikan ibadah haji berniat meneruskan perjuangan para leluhurnya dalam mengelola pondok pesantren. Beliau adalah putra dari K.H Syu’eib yang pernah memimpin pesantren tersebut pada periode 1920-1937. Dengan keinginan serta tekad yang kuat untuk menyebarkan dakwah Islam melalui pesantren, maka didirikanlah rumah yang dilengkapi dengan langgar sederhana di atas tanah wakaf seluas 0,25 hektar di kampung Cipulus Kecamatan Wanayasa.

Perkembangan pesantren tersebut sangat pesat terbukti dengan jumlah santri terus meningkat, bahkan sebagian masyarakat sekitar yang ingin menuntut ilmu di rumah tersebut tidak tertampung, melihat kenyataan itu kemudian dibuatlah asrama pondokan yang sederhana, tiang dari kayu seadanya dengan dilapisi dinding dari bambu yang dikerjakan oleh para santri dan dibantu oleh masyarakat setempat. Walau demikian, asrama yang sederhana itu untuk sementara cukup menampung para santri, selang beberapa tahun mesjid diperluas menjadi 0,50 hektar. Pesantren tersebut diberi nama “sukalaksana “ dan pada tahun 1975 atas saran para tokoh serta simpatisan nama pesantren sukalaksana diganti menjadi pesantren “Al-Hikamussalafiyah“ yang berarti pesantren yang mengikuti jalan ulama salaf. Dan sesudah wafatnya K.H ‘Izzuddin pada tahun 1999, tonggak kepemimpinan Pesantren dipegang penuh oleh Syaikhuna Al-mukarrom KH.Adang Badruddin (Abah Cipulus).

H Hadi M Musa Said juga mengatakan penganugerahan yang diberikan PBNU ini merupakan suatu hal yang sangat berharga dan membanggakan. Ia berharap pesantren menjadi role model pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. 

"Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk terus melanjutkan perjuangan para muassi NU dan tokoh-tokoh pesantren. Saya ucapkan terima kasih kepada PBNU dan keberkahan untuk semua," imbuh H Hadi. 

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah adalah salah satu contoh bagaimana model pendidikan yang lahir-tumbuh kembang di masyarakat  dan terus bisa menyesuaikan dengan zaman. Terbukti bahwa setiap tahun santri PP Cipulus terus bertambah, pertumbuhan dan perkembangan pesantren pun dilakukan. 

Mengacu pada pekembangan PP Cipulus pada tahun 1986 M didirikan Madrasah Diniah Wustho, yang selanjutnya berdasarkan usulan masyarakat khususnya jama’ah pengajian rutinan pesantren menginginkan anak cucunya memiliki Izajah negeri atau Izajah yang diakui, maka KH. ‘Izzudin (Ama Cipulus) menganjurkan kepada putranya yaitu KH. Muparod untuk mendirikan sekolah yang lulusannya bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Pada pertengahan tahun 1987 M Madrasah Diniah Wustho dirubah menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang kurikulumnya mengikuti kurikulum nasional yang diakui dan lulusannya bisa melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA). Pada tahun 1988 didirikan juga Madrasah Aliyah karena semakin banyak juga santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA)

Pada tahun 1999 M setelah meninggalnya KH. ‘Izzudin (Ama Cipulus), pengelolaan pesantren diteruskan kepemimpinannya oleh KH. Adang Badrudin atau yang lebih dikenal dikalangan masyarakat dengan panggilan Abah Cipulus. Dibawah pengelolaannya pendidikan pesantren terus dikembangkan, santri-santri pun terus bertambah dan meningkat tiap tahunnya. Seiring dengan terus bertambahnya santri yang mondok di pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus, KH. Adang Badrudin (Abah Cipulus) menganjurkan kepada putra-putrinya untuk membantu mengelola pesantren dan mengurus santri yang mondok di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus.

Setelah adanya anjuran dari KH. Adang Badrudin (Abah Cipulus) kepada putra-putrinya, didirikanlah asrama-asrama di Pondok Peantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus. Terhitung mulai dari tahun 2004 M sampai dengan sekarang tahun 2020 M, ada sepuluh asrama yang didirikan dan dikelola oleh putra-putri dari KH. Adang Badrudin (Abah Cipulus).
 



ARTIKEL TERKAIT