Rabu, 28 Februari 2024 17:24 WIB

Mengenal Ruwahan, Tradisi Umat Islam Menyambut Bulan Ramadhan


  • Rabu, 08 Maret 2023 11:41 WIB

NAHDLIYIN.COM -- Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, banyak aktifitas tradisi-budaya yang dilakukan umat Islam berbagai dearah di Indonesia dan setiap wilayah memiliki ciri dan khas masing-masing dalam penyelenggaraannya. 

Salah satu yang tetap dilestarikan oleh sebagian masyarakat adalah tradisi Ruwahan atau Nyadran. Tradisi ini banyak kita temukan di daerah jawa, juga sumatera dan dilakukan pada bulan syaban dalam kalender hijriah. 

Tradisi yang berasal dari tradisi Hindu - Budha ini dilakukan selama bertahun-tahun yang menggabungkan antara kepercayaan adat dan ajaran agama Islam. Merujuk pada buku yang berjudul "Islam Tradisi Studi Komparatif Budaya Jawa Dengan Tradisi Islam" karya Ibnu Ismail (Kediri, Tetes Publishing, 2011) menjelaskan pelaksanaan tradisi Ruwahan atau sering disebut Nyadran oleh penduduk Jawa memiliki alasan filosofi dan historis yang berbeda-beda di masing-masing daerah.

Dalam pandangan Ibnu Ismail Nyadran/Ruwahan versi hidu-jawa adalah pemujaan, dimana orang yang dituakan akan menyiapkan kemenyan dan berbagai bunga. Setelah kemenyan dibakar, mantra dibacakan, dalam kepercayaannya arwah akan datang di area bunga yang mereka puja. Masyarakat menyiapkan sejaji kue, minuman dan makanan. 

Sementara Ruwahan/Nyadran dalam versi Islam, Ibnu Ismail menjelalskan adalah bakti dan hormat pada tetua dengan kirim doa, gotong royong, silahtuhrahim, yakni ajang perkenalan antara keturunan moyang desa. Ia pun menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi nyadran versi Islam lebih disesuaikan dengan Islam yakni pada nisfu Syaban, bulan yang dikaruniakan pada Rasulullah SAW yang identik dengan ziarah untuk meminta restu karena akan memasuki bulan Ramadan.

Tidak hanya itu, mengutip buku berjudul "Kuliner Yogyakarta Pantas Dikenang Sepanjang Masa" (2017) oleh Murdijati Gardjito dan kawan-kawan, Ruwahan adalah tradisi yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa sebulan sebelum menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tradisi Ruwahan yang dilakukan di bulan Ruwah tersebut bertujuan untuk mengirim doa untuk para leluhur yang sudah meninggal.

Selain mengirim doa, Ruwahan juga dilakukan untuk memohon ampunan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ruwahan juga diisi dengan kenduri warga sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan rezeki dan keselamatan dalam bekerja.

Ruwahan juga menjadi momen masyarakat Jawa dalam mengekspresikan persamaan hak dan kewajiban antarsesama manusia sebagai umat Tuhan. Dalam tradisi tersebut, seluruh lapisan masyarakat berkedudukan sama, yakni sebagai penyelenggara tradisi dan penyedia sesaji yang mendapatkan rezeki dari Tuhan.

Trdisi Nyandran memang banyak dilakukan oleh masyarakat Hindu-Budha, namaun pada Abad ke-15 Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.

nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Dalam bahasa Jawa, nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah Syaban.

Para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam yang dinilai musyrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.



ARTIKEL TERKAIT