- 30 November 2025
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Peringatan Hari Santri merupakan momentum penting untuk mengingat kembali bahwa santri selalu memiliki peran besar bagi bangsa Indonesia, sejak masa perjuangan hingga kini, seiring perubahan zaman.
Dulu, santri diminta angkat senjata ketika bangsa ini memanggil. Dengan kemampuan sederhana, semangat heroik, dan iman yang kuat, para santri ikut dalam fatwa jihad para kiai untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan penjajah yang datang kembali melalui Surabaya.
Namun, setelah itu, peran santri sempat dihapus dari sejarah. Di sekolah-sekolah dan buku-buku pelajaran, kita hanya mendengar kisah “10 November, Hari Pahlawan, arek-arek Suroboyo, dan Bung Tomo.” Framing yang menyingkirkan peran santri, pesantren, dan para kiai dalam mempertahankan negeri.
Selama bangsa ini berdiri, santri tidak pernah banyak menuntut. Di masa Orde Baru, kalangan pesantren bahkan kerap dipinggirkan. Namun, para santri tetap berbuat baik, tak pernah ada cerita pemberontakan, bahkan dalam pikiran. Hal ini karena didikan para kiai yang menanamkan kesabaran, rasa syukur, hikmah, dan nasionalisme yang kokoh.
Alih-alih melawan, pesantren terus beradaptasi dengan zaman, sesuai kaidah pesantren: “Al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi as-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” menjaga nilai lama yang baik, sambil mengambil nilai baru yang lebih baik.
Santri juga kerap menjadi game changer. Seperti pada peristiwa 22 Oktober dan 10 November, ketika semangat santri menjadi kekuatan perubahan yang menuntaskan penjajahan secara kaffah.
Bahkan di era kini, santri tetap memegang peran penting. Terbukti, Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, meraih kemenangan setelah mendapat dukungan luas dari kalangan pesantren baik secara kelompok maupun personal karena dinilai dekat dengan nilai-nilai pesantren.
Kini, pesantren juga terus berbenah. Jika dulu hanya fokus pada pengajian kitab, kini banyak pesantren yang memperluas kurikulum: mengajarkan ilmu pengetahuan umum, teknologi, hingga lifeskill bagi santri. Pesantren tidak lagi sekadar benteng moral, tetapi juga pusat lahirnya generasi berilmu dan mandiri.
Namun tantangan baru pun hadir. Jika dulu peran santri dihapus dari sejarah, kini santri menghadapi framing yang keji dari sebagian media, bahkan sekecil Trans7. Meski begitu, protes dari kalangan pesantren tetap disampaikan dengan cara santun dan beradab, sebagaimana identitas sejati santri.
Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025.
Mari terus meneladani semangat para santri pejuang yang tak hanya mengangkat senjata di masa lalu, tapi kini mengangkat nilai, ilmu, dan adab untuk menjaga Indonesia tetap kuat.
Oleh: TB Adam Ma’rifat, M.I.P, Ketua PW GP Ansor Banten (sejak 2024), Lulusan S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia, Asal Kabupaten Pandeglang, dikenal sebagai santri intelektual yang memadukan nilai keagamaan, nasionalisme, dan kepemimpinan progresif. Berkomitmen menjadikan Ansor Banten sebagai gerakan pemuda yang kuat, adaptif, dan berdaya untuk kemajuan umat dan bangsa.