- 02 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran, menilai aksi tersebut jelas melanggar hukum internasional dan mengancam tatanan dunia yang selama ini dijaga melalui kedaulatan negara dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ketua PBNU, H. Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali, menyatakan bahwa serangan militer bersama yang dimulai pada akhir Februari 2026 telah memperburuk ketegangan geopolitik global serta membawa dampak destruktif pada berbagai negeri di kawasan Timur Tengah. Savic menegaskan bahwa setiap negara berdaulat memiliki hak kedaulatan yang wajib dihormati oleh komunitas internasional, dan penggunaan kekuatan bersenjata tanpa mandat PBB merupakan bentuk pelanggaran yang serius.
Menurut Savic, tindakan tersebut mengingatkan kembali pada era sebelum 1945, saat negara-negara besar menggunakan kekuatan militer semena-mena tanpa rujukan hukum internasional. Ia mendesak PBB untuk mengambil langkah tegas, termasuk melalui sidang darurat serta pemberian sanksi terhadap pihak yang melakukan agresi, sebagaimana pernah dilakukan terhadap invasi Irak ke Kuwait pada 1990.
Savic juga mempertanyakan justifikasi serangan dengan dalih ancaman program nuklir Iran. Ia memandang argumentasi tersebut kurang kuat dan tidak dapat dijadikan dasar sah untuk membenarkan tindakan militer unilateral. Bahkan menurut laporan dan upaya mediasi sebelumnya, Iran nyaris menyetujui beberapa tuntutan internasional terkait pembatasan program nuklirnya.
Lebih jauh, Ketua PBNU menilai konflik ini tidak hanya memiliki dampak militer dan hukum, tetapi juga memainkan peran dalam upaya hegemonik di kawasan Arab–Persia. Israel, menurut Savic, berniat mengeliminasi kekuatan tandingan di kawasan, sedangkan Amerika Serikat berupaya memperkuat pengaruh strategisnya di wilayah kaya energi tersebut. Ia menyinggung dinamika geopolitik yang serupa juga terlihat di kawasan lain sebagai bagian dari pola kekuatan global.
Savic kemudian mengajak negara-negara Muslim dan komunitas internasional untuk menegaskan solidaritas, mengecam agresi militer yang memperburuk konflik, serta kembali pada prinsip-prinsip hukum internasional dan diplomasi damai. “Persatuan dan suara umat untuk perdamaian harus lebih didengar daripada rivalitas yang justru memperluas konflik,” ujarnya.
Diketahui, eskalasi terbaru dalam konflik ini telah memicu serangan balasan dari Iran ke berbagai sasaran, termasuk ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan perluasan konflik lebih luas yang melibatkan negara-negara tetangga.