- 26 Februari 2026
NAHDLIYIN.COM, Bogor – Di sebuah bengkel sederhana di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, deru mesin jahit dan ketukan palu berpadu dengan aroma lem yang khas. Di tempat itulah Dahlan Supriadi (44) menggantungkan hidupnya sejak 2005, memproduksi sendal dan sepatu perempuan bersama beberapa pekerja.
Selama dua dekade, usaha rumahan itu pernah merasakan masa keemasan. Pada 10 tahun pertama, harga bahan baku relatif murah dan harga jual tinggi. Dalam sepekan, Dahlan mampu mengerjakan 10–15 kodi. Bahkan ketika dua pekan tanpa pesanan, tabungan masih cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Namun kini, roda usaha tak lagi berputar semulus dulu. Harga bahan baku melonjak tajam. Jika sebelumnya bahan tertentu dibeli sekitar Rp13 ribu per meter, kini menembus Rp20 ribu. Ironisnya, harga jual justru ditekan serendah mungkin akibat persaingan ketat dan membanjirnya produk murah di pasar daring.
“Bahan mahal, tapi harga jual barang malah rendah. Kalau buat makan cukup, tapi selebihnya itu yang bingung,” ujar Dahlan, sebagaimana dilansir NU Online, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, perubahan pola distribusi sangat terasa. Dahulu, perajin membawa contoh produk ke pusat grosir dan mencari “bos” penerima barang. Kini, arus perdagangan bergeser ke platform online. Persaingan tak hanya antar-bengkel, tetapi juga dengan produk pabrikan dan impor yang dijual dengan harga miring.
Dalam sehari, bengkelnya mampu memproduksi tujuh hingga delapan kodi. Menjelang Lebaran, mereka kerap bekerja hingga tengah malam bahkan mendekati sahur demi mengejar pesanan. Musim Lebaran masih menjadi harapan, karena permintaan biasanya meningkat meski margin keuntungan semakin tipis.
Upah pekerja dibayarkan per kodi, berkisar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu tergantung jenis pekerjaan. Semua dihitung cermat agar usaha tetap berputar di tengah tekanan biaya produksi.
Dahlan pun mencoba beradaptasi. Enam bulan terakhir, ia merintis akun penjualan online sendiri. Hasilnya belum signifikan—rata-rata hanya tiga hingga empat pasang terjual per hari. Namun ia memilih bertahan dengan konsistensi.
Soal dukungan pemerintah, ia mengaku belum merasakan dampak berarti. Meski ada koperasi, menurutnya permodalan dan pemasaran bagi perajin kecil masih jauh dari optimal.
Di tengah ketidakpastian itu, Dahlan tetap berdiri di balik meja kerjanya. “Kalau enggak kerja begini, kerja apa lagi?” katanya lirih.
Menjelang Lebaran, harapannya sederhana: bahan baku lebih stabil, harga jual lebih adil, dan usaha kecil seperti miliknya tetap memiliki ruang hidup di tengah derasnya arus perdagangan digital.