Kamis, 12 Maret 2026 18:05 WIB

Gus Mus: Kehinaan Berawal dari Benih Ketamakan dan Angan-Angan Kosong


  • Kamis, 12 Maret 2026 14:45 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, mengingatkan pentingnya membersihkan diri dari sifat tamak. Menurutnya, berbagai bentuk kehinaan dalam kehidupan manusia kerap berawal dari benih ketamakan yang dibiarkan tumbuh dalam diri.

Dalam pengajian Ramadhan yang ditayangkan melalui kanal YouTube NU Online dan diakses Rabu (11/3/2026), Gus Mus mengutip hikmah dari ulama sufi besar Ibn Ata Allah al-Iskandari yang menyatakan bahwa kehinaan manusia berakar dari sifat tamak.

“Tidak akan tumbuh cabang-cabang kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan,” ujar Gus Mus.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu menjelaskan bahwa ketamakan ibarat biji yang ditanam dalam hati seseorang. Apabila benih tersebut dibiarkan tumbuh, ia akan berkembang menjadi berbagai perilaku yang pada akhirnya menyeret manusia pada kehinaan.

Menurutnya, seseorang yang awalnya dikenal baik pun bisa berubah menjadi hina ketika dalam dirinya mulai tumbuh sifat tamak.

“Orang yang tadinya baik bisa menjadi hina. Mengapa? Karena dalam dirinya muncul benih ketamakan. Kalau benih itu dibiarkan, lama-lama akan berkembang dan membawa pada kehinaan,” jelasnya.

Karena itu, Gus Mus menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat serakah sejak awal. Ia mengingatkan agar manusia tidak membiarkan ketamakan bersemayam dalam dirinya, sebab sifat tersebut dapat merendahkan martabat seseorang.

Selain ketamakan, Gus Mus juga menyoroti bahaya mengikuti angan-angan kosong. Dalam pengajian yang mengulas kitab tasawuf klasik Al-Hikam, ia menjelaskan bahwa angan-angan yang tidak berdasar kerap menjerumuskan seseorang pada keputusan yang keliru.

Menurutnya, banyak orang mengambil langkah hanya berdasarkan dugaan atau bayangan pikiran yang belum tentu benar.

“Sering kali orang mengikuti angan-angannya sendiri. Ia berpikir, ‘Kalau begini nanti pasti begini.’ Padahal itu hanya dugaan,” tuturnya.

Gus Mus kemudian memberikan contoh sederhana seseorang yang bercermin lalu berangan-angan bahwa dirinya pantas menjadi bintang film. Angan-angan tersebut bisa saja mendorong seseorang mengambil berbagai langkah untuk mewujudkannya. Namun, menurutnya, angan-angan semacam itu tidak selalu membawa hasil baik, terlebih jika didasari ketamakan atau keinginan berlebihan.

“Kadang orang merasa angan-angannya menuju kebaikan, tetapi pada akhirnya justru membawa pada sesuatu yang tidak baik,” kata kiai yang juga dikenal sebagai penyair dan budayawan itu.

Melalui pengajian tersebut, Gus Mus mengajak umat Islam untuk lebih berhati-hati menjaga hati dari sifat tamak dan tidak terjebak pada angan-angan kosong. Sebab, keduanya dapat menjadi awal dari berbagai bentuk kehinaan dalam kehidupan manusia.
 



ARTIKEL TERKAIT