- 24 April 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – KH. Abdul Hamid pernah berkata: "Saya ingin sekali seperti Kiai Syarwani Abdan. Dia itu alim tapi mastur (tersembunyi), tidak masyhur (terkenal).... Kalau saya ini sudah terlanjur masyhur, jadi saya ini sering kerepotan karena harus menemui banyak orang. Menjadi orang masyhur itu tidaklah mudah, bebannya itu berat. Kalau Kiai Syarwani itu enak, jadinya tidak banyak didatangi orang"
Beruntung, masih ada pihak yang menjadi bagian dari sejarah foto ini yang bisa menceritakannya, yang didapat dari Mas Muhammad Baihaqi, putra dari Haji Muhdor Maksum (Ampel, Surabaya). Haji Muhdor merupakan menantu dari Guru KH. Syarwani Abdan, Bangil.
Haji Muhdor Maksum adalah tuan rumah tempat pertemuan bersejarah tersebut sekaligus fotografer yang mengabadikan momen itu. Mas Baihaqi menceritakan kisah ini yang didapat dari ayahnya, Haji Muhdor.
KH. Syarwani Abdan biasanya ketika Haul Kanjeng Sunan Ampel di bulan Sya'ban, beliau berziarah pada pagi hari, sebelum acara puncak Haul yaitu setelah waktu Ashar. Sedangkan KH. Abdul Hamid datangnya sebelum waktu shalat Ashar.
Pada waktu itu, KH. Abdul Hamid datang ke Masjid Ampel untuk menghadiri Haul Agung Kanjeng Sunan Ampel. Beliau datang tepat saat orang-orang hendak shalat Ashar, dan rencananya setelah itu beliau mau hadir di makam Sunan Ampel. Namun, kenyataannya tidak bisa, karena sejak Kiai Hamid masuk wilayah Masjid Ampel, sudah banyak orang yang berebut untuk bersalaman karena kemasyhuran beliau.
Untuk menghindari orang-orang yang ingin bersalaman, Kiai Hamid melakukan shalat sunnah dua rakaat. Jika ada yang ingin bersalaman, beliau shalat sunnah dua rakaat lagi, sambil terus menunggu shalat Ashar dimulai.
Ketika shalat Ashar dimulai dan jamaah mulai mengisi shaf-shaf shalat, Kiai Hamid segera bergegas keluar dari Masjid Ampel untuk pulang dan memutuskan tidak jadi menghadiri Haul Kanjeng Sunan Ampel.
Dalam perjalanan pulang dari Masjid Ampel menuju Jalan Raya Ampel untuk menuju mobil, Haji Hasan (adik dari Haji Muhdor) berhasil bersalaman dan memberitahukan kepada Kiai Hamid bahwa Guru Syarwani ada di rumah kakaknya (Haji Muhdor) yang dekat dari Ampel.
Langsung saja Kiai Hamid meminta Haji Hasan untuk mengantarkannya menemui Guru Syarwani Bangil. KH. Abdul Hamid pun masuk ke rumah kakak dari Haji Hasan, yakni Haji Muhdor, dengan diikuti beberapa ulama lainnya seperti Al Hafizh KH. Dahlan Peneleh, KH. Abdurrahim bin KH. Syadzily (Kiai Pendem) Malang, KH. Busthomi bin KH. Husnan Surabaya, dan lain-lain.
Seketika itu, Haji Muhdor segera memberitahukan kepada Guru Syarwani bahwa sekarang ada Kiai Hamid di ruang tamu depan. Maka langsunglah Guru Syarwani Bangil bergegas menemui Kiai Hamid yang sedang menunggu beliau.
Terjadilah pertemuan kedua ulama tersebut di rumah Haji Muhdor. Saat itu, Kiai Hamid dan Guru Syarwani Bangil saling merangkul dan mencium tangan. Momen-momen indah saat itu antara lain:
Kiai Hamid meminta agar Guru Syarwani bersedia bertukar selendang sorban. Sorban putih yang dipakai Guru Syarwani ditukar dengan sorban beliau, Kiai Hamid. Maka bertukarlah sorban kedua ulama tersebut.
Sorban bekas Guru Syarwani oleh Kiai Hamid dipakai di atas kepala, sedangkan sorban bekas Kiai Hamid oleh Guru Syarwani diselempangkan di pundak leher.
Setelah itu, mereka berdua menuju ke dalam ruang keluarga Haji Muhdor.
Setelah itu, Kiai Abdul Hamid meminta siwak bekas yang baru saja dipakai Guru Syarwani Bangil agar diberikan kepada beliau.
Kiai Hamid tidak mau minum kopi yang baru, malah justru meminum bekas kopi Guru Syarwani. Setelah tahu kopinya diminum, kemudian Guru Syarwani meminum kembali kopi yang bekas diminum oleh KH. Hamid.
Di tengah perbincangan kedua wali tersebut, Haji Muhdor mencoba mengabadikan momen tersebut dengan memfoto