- 13 Januari 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menegaskan pentingnya transformasi pesantren agar tetap relevan di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dinilai menjadi kunci agar pesantren mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri.
Anggota RMI PBNU Ulun Nuha menuturkan bahwa pesantren merupakan institusi pendidikan besar yang telah teruji oleh sejarah. Hingga kini, jumlah pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 42 ribu, dengan sekitar 28 ribu di antaranya secara mandiri mendeklarasikan diri sebagai pesantren NU. Bahkan, keberadaan pesantren telah berlangsung sejak abad ke-13 dan diakui negara sebagai bagian penting dari sistem pendidikan nasional.
“Kita pahami bersama, yang akan bertahan bukan yang paling kuat atau paling pintar, tetapi yang paling adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu, pesantren juga harus lulus tantangan relevansi. Di sinilah pentingnya transformasi pesantren,” ujar Ulun, Senin (12/1/2026) malam.
Menurutnya, kekuatan tradisi dan sejarah yang dimiliki pesantren harus disertai dengan pembaruan cara pandang dan sistem pendidikan. Perubahan dunia pendidikan berlangsung sangat cepat, sementara output lembaga pendidikan termasuk pesantren, dituntut siap menghadapi realitas baru.
“Pesantren memang teruji oleh zaman, tetapi bukan berarti berhenti bergerak. Kehadiran AI menjadi contoh nyata bahwa perubahan tidak bisa dihindari. Pesantren harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya,” tegasnya.
Komitmen transformasi tersebut ditegaskan dalam Rapat Kerja (Raker) RMI PBNU yang digelar pada 10–11 Januari 2026 di Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Raker bertema Konsolidasi dan Transformasi Organisasi untuk Khidmah Prima itu menjadi raker pertama kepengurusan RMI PBNU untuk masa khidmah lima tahun ke depan.
Ulun menjelaskan, raker tersebut bertujuan menyegarkan organisasi sekaligus merumuskan program-program yang adaptif dan relevan untuk dijalankan secara berkelanjutan. “Ini menjadi landasan bagi pelaksanaan visi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Ketua RMI PBNU KH Hodri Arief, sekaligus respons terhadap tantangan kekinian,” ujarnya.
Selain transformasi, konsolidasi organisasi juga menjadi fokus utama RMI PBNU, terutama menyusul adanya pergantian antarwaktu (PAW) kepengurusan. Karena itu, raker dihadiri pengurus lama dan baru.
Selama setahun terakhir, RMI PBNU mencatat sejumlah capaian penting, antara lain pendampingan dan peresmian SPPG NU, penyusunan standar pesantren, nasyur sanad Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, inkubasi beasiswa Maroko, kerja sama dengan BPOM dan Universitas Terbuka, pendirian Sentra Layanan UT (SALUT) di pesantren, kampanye anti-kekerasan di pesantren bersama Polri, hingga program Smart Pesantren yang meliputi pelatihan digital dan tata kelola keuangan.
Ke depan, RMI PBNU menyiapkan sejumlah program strategis, seperti pelatihan literasi finansial bagi santri, pendampingan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan kemudahan perizinan bangunan pesantren, serta penguatan Satgas Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren melalui penyusunan SOP, modul, dan training of trainers (ToT).
“Dengan transformasi yang terarah dan konsolidasi yang kuat, pesantren diharapkan tetap menjadi pusat pendidikan, pengabdian, dan peradaban yang relevan bagi umat dan bangsa,” pungkas Ulun.