- 09 Juli 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, akan meluncurkan sekaligus membedah kitab terbarunya berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa pada Jumat (10/7/2026) pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Mengusung tema Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa, Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW, kegiatan ini tidak sekadar menjadi peluncuran sebuah karya ilmiah, tetapi juga ikhtiar menghidupkan kembali tradisi intelektual ulama melalui budaya menulis kitab di lingkungan Nahdlatul Ulama, pesantren, perguruan tinggi Islam, dan lembaga-lembaga keagamaan.
Momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena digelar menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, ketika perhatian publik tertuju pada arah kepemimpinan, penguatan tradisi keilmuan, serta peran strategis NU dalam menjawab berbagai tantangan umat, bangsa, dan peradaban.
KH Zulfa menegaskan bahwa tradisi menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri ulama. Menurutnya, kemajuan peradaban Islam sejak masa klasik hingga berkembang di Nusantara selalu ditopang oleh lahirnya karya-karya keilmuan yang diwariskan lintas generasi.
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujar KH Zulfa dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak itu menilai pesantren selama ini telah berhasil menjaga tradisi transmisi ilmu melalui kajian kitab kuning. Namun, menurutnya, pesantren juga harus terus melahirkan karya-karya baru yang mampu menjawab dinamika zaman.
Ia menilai tantangan yang dihadapi umat saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Karena itu, dibutuhkan ulama yang tidak hanya menguasai khazanah klasik, tetapi juga mampu menghadirkan jawaban keilmuan yang relevan dengan realitas kontemporer.
"Memang penting kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," katanya.
Menurut KH Zulfa, tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama tidak boleh berhenti pada aktivitas pengajaran dan pengajian semata. Lebih dari itu, tradisi tersebut harus berkembang menjadi budaya produksi ilmu melalui penulisan kitab dan penguatan literasi Islam Indonesia.
Ia menegaskan bahwa menulis kitab bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari dakwah dan khidmah kepada umat. Melalui karya tulis, ilmu dapat terus diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan, bahkan melampaui batas ruang dan waktu.
"Ceramah dapat menggerakkan hati pada masanya. Tetapi kitab menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa. Karena itu, setiap ulama perlu memiliki semangat untuk meninggalkan karya sebagai bagian dari amal jariyah keilmuan," tegasnya.
KH Zulfa berharap semangat melahirkan karya-karya keislaman kembali tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama, baik di pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga bahtsul masail. Menurutnya, tradisi membaca harus berjalan seiring dengan tradisi menulis agar khazanah keilmuan Islam Indonesia terus berkembang dan memberi kontribusi bagi peradaban dunia.
Ia menjelaskan, gagasan itulah yang melatarbelakangi lahirnya kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa. Kitab tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperkaya literasi Islam Indonesia melalui karya yang berpijak pada sanad keilmuan, responsif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi pesantren.
Peluncuran dan bedah kitab ini akan dihadiri para ulama, kiai, akademisi, santri, tokoh masyarakat, serta warga Nahdliyin. Acara tersebut juga akan dipandu oleh Gus Miftah sebagai moderator.