Jum'at, 23 Oktober 2026 20:22 WIB

Gus Ghofur Maemoen Ungkap Kunci Karakter Santri di Era Digital, Akhlak Tak Cukup Sekadar Teori


  • Jum'at, 23 Oktober 2026 17:07 WIB

NAHDLIYIN.COM, Temanggung – Pembentukan karakter santri tidak cukup hanya melalui penguasaan ilmu agama, hafalan, atau pemahaman tentang baik dan buruk. Lebih dari itu, nilai-nilai kebaikan harus tertanam dalam jiwa hingga tercermin secara konsisten dalam perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua STAI Al-Anwar Sarang, Rembang, Dr. KH. Abdul Ghofur Maemoen, M.A. atau Gus Ghofur, dalam Studium Generale Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, Kamis (22/10/2026).

Mengangkat tema “Internalisasi Karakter Santri di Era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity”, kegiatan yang berlangsung di Aula Babussalam, Temanggung, tersebut membahas pentingnya memperkuat fondasi moral santri di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan kompleks.

Dalam pemaparannya, Gus Ghofur menguraikan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin yang menempatkan akhlak sebagai kondisi jiwa yang tertanam kuat sehingga mendorong seseorang melakukan suatu perbuatan dengan mudah, tanpa harus melalui pertimbangan panjang setiap kali bertindak.

Menurutnya, akhlak tidak bisa dinilai hanya dari satu tindakan yang terlihat baik. Seseorang, misalnya, belum tentu memiliki karakter dermawan hanya karena sekali bersedekah. Begitu pula kejujuran belum menjadi karakter yang kuat apabila hanya muncul ketika seseorang diawasi atau tidak menghadapi risiko.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa ukuran akhlak terletak pada konsistensi nilai yang tertanam dalam diri seseorang, bukan semata-mata pada perilaku sesaat.

“Pendidikan harus mengantarkan santri pada kemampuan menghayati, menguasai, dan membiasakan nilai-nilai tersebut hingga menjadi bagian dari kepribadiannya,” tegas Gus Ghofur.

Karakter Santri Dibentuk melalui Keteladanan dan Pembiasaan

Gus Ghofur menjelaskan, pembentukan akhlak membutuhkan proses panjang. Dalam pemikiran Al-Ghazali, proses tersebut berkaitan dengan mujahadah, yakni perjuangan mengendalikan kecenderungan buruk, disertai latihan dan pengulangan perbuatan baik hingga menjadi kebiasaan.

Karena itu, karakter santri tidak terbentuk secara instan melalui ceramah, nasihat, maupun hafalan semata. Diperlukan keteladanan para pendidik, lingkungan pesantren yang mendukung, kedisiplinan, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair tersebut menilai, prinsip ini tetap relevan ketika pesantren menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Menurutnya, santri perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan moral yang menjadi dasar perilakunya.

“Teknologi boleh berkembang, tetapi penggunaannya tetap harus diarahkan oleh tanggung jawab, kejujuran, dan kemaslahatan,” ujarnya.

Empat Keutamaan Akhlak sebagai Pijakan Santri

Dalam pemaparannya, Gus Ghofur juga menguraikan empat keutamaan akhlak yang dapat menjadi landasan pembentukan karakter, yakni hikmah, ‘iffah, syaja’ah, dan ‘adalah.

Pertama, hikmah atau kebijaksanaan, yaitu kemampuan menggunakan akal untuk memahami persoalan serta membedakan kebenaran dan kesalahan. Dalam kehidupan digital, nilai ini dapat diwujudkan dengan memeriksa sumber informasi, memahami konteks, mempertimbangkan dampak, serta tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Kedua, ‘iffah atau pengendalian diri. Keutamaan ini menuntut kemampuan mengendalikan hawa nafsu, keinginan, dan dorongan sesaat. Bagi santri yang aktif di media sosial, pengendalian diri tercermin dari sikap tidak mudah terpancing provokasi, tidak mengejar popularitas dengan mengorbankan etika, serta tidak menggunakan teknologi untuk merugikan orang lain.

Ketiga, syaja’ah atau keberanian. Gus Ghofur menekankan bahwa keberanian bukanlah tindakan gegabah, melainkan kemampuan mengambil sikap yang tepat setelah mempertimbangkan persoalan secara matang.

“Santri perlu berani menyampaikan kebenaran, mengakui kesalahan, melawan ketidakadilan, dan mempertahankan prinsip tanpa berubah menjadi pribadi yang kasar atau merendahkan orang lain,” tegasnya.

Keempat, ‘adalah atau keadilan, yakni kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional dan menjaga keseimbangan. Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai ini menuntut santri untuk menghormati hak orang lain, tidak mudah menghakimi, serta mempertimbangkan berbagai sisi sebelum mengambil keputusan.

Gus Ghofur menegaskan, keempat keutamaan tersebut saling melengkapi. Kebijaksanaan membantu santri memahami persoalan, pengendalian diri menjaga keputusan dari dorongan hawa nafsu, keberanian mendorong tindakan yang benar, sedangkan keadilan memastikan tindakan tersebut tetap proporsional.

Menghadapi Era VUCA dengan Kematangan Moral

Lebih lanjut, Gus Ghofur mengingatkan bahwa era VUCA, yang ditandai perubahan cepat (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan ketaksaan (ambiguity), menuntut santri memiliki bekal lebih dari sekadar kecerdasan intelektual.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, pengetahuan perlu diimbangi kematangan moral agar tidak disalahgunakan. Santri diharapkan mampu bersikap kritis, mengambil keputusan secara bijaksana, serta mempertimbangkan kemaslahatan dalam setiap tindakan.

“Santri juga membutuhkan kematangan moral agar mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab,” tandasnya.

Kegiatan Studium Generale tersebut dimoderatori Direktur Program Pascasarjana INISNU Temanggung Dr. H. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H.

Melalui forum akademik ini, penguatan karakter santri kembali ditegaskan sebagai proses pendidikan yang menyatukan ilmu, penghayatan nilai, pembiasaan, dan keteladanan. Dengan fondasi akhlak yang kuat, santri diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai luhur pesantren dalam kehidupan modern.



ARTIKEL TERKAIT