Kamis, 14 Mei 2026 00:01 WIB

Gus Baha Tekankan Pentingnya Tata Krama Sosial dalam Bermasyarakat


  • Senin, 09 Desember 2024 13:54 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – KH Ahmad Bahauddin Nursalim, yang akrab disapa Gus Baha, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya tata krama sosial sebagai pondasi keharmonisan hidup bermasyarakat. Beliau menekankan bahwa tata krama, atau adab, bukan sekadar tradisi, tetapi inti ajaran Islam yang harus diamalkan setiap hari.

Gus Baha juga mengingatkan seluruh masyarakat untuk memperhatikan tata krama sosial, terlepas apapun jabatan dalam strata sosial.

Karena ketika melanggar, maka masyarakat akan pergi dari kehidupan pelanggar tata krama sosial tersebut. Masyarakat juga tidak akan melakukan kegiatan sosial dengannya lagi. Hal itu disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut ketika mengisi kegiatan diskusi bertajuk Memahami Al-Qur'an dengan meneladani Rasulullah di Universitas IsIam Indonesia (UII) Yogyakarta.

"Inilah betapa pentingnya tata krama sosial. Rasulullah yang di-backup se-alam raya saja, tapi sekali melanggar tata krama sosial tetap saja orang akan bubar/pergi," jelasnya.

Menurut Gus Baha, hukum sosial tidak pernah mengikat hanya pada satu kelompok atau orang saja, melainkan melibatkan semuanya. Bahkan kekasih-kekasih Allah, para Nabi juga dinasihati untuk memperhatikan hal sosial agar tidak salah dipahami.

"Ibnu Khaldun pernah berkata dan ini saya pegang. Nabi sebagai Nabi itu tetap terkena hukum sosial, meskipun memiliki mukjizat seperti apapun ketika ketemu orang harus santun, ketemu anak kecil harus sayang, ketemu orang tua harus hormat," kata Gus Baha.

Bahkan, kata dia, seandainya para nabi bisa terbang pun, ketika ada pelanggaran sosial, maka tetap akan dijauhi oleh masyarakat atau jamaahnya. Oleh karenanya, Nabi Muhammad sangat menjaga akhlaknya.

"Andai Nabi bisa terbang ke langit pun (mi'raj), tapi ketemu anak kecil suka nampar, ketemu sama orang tua lalu meludahi, tetap saja tidak diterima oleh masyarakat," ujarnya.

Misal lain, kata Gus Baha, ketika seseorang memuliakan tokoh, lalu tokoh tersebut mengucapkan hal kotor kepada pecintanya, maka ia pun akan ditinggalkan. Karena Rasulullah saja yang bisa mengendalikan alam raya masih terkena aturan sosial.

Begitulah hukum sosial berjalan dan biarkan saja. "Kalian memuliakan saya dengan panggilan Gus, kalau dikatain dengan ucapan kotor oleh saya, maka tetap saja tidak terima dan menyalahkan," ucap Gus Baha.

Gus Baha juga menegaskan bahwa perkembangan teknologi jangan sampai mengikis nilai-nilai sopan santun. Media sosial, kata beliau, harus menjadi ladang pahala dengan membangun konten yang positif dan menghindari ujaran kebencian atau fitnah. “Adab itu mendahului ilmu. Kalau ilmu tanpa adab, ilmunya bisa menjadi bumerang,” katanya.

Beliau mengutip teladan Rasulullah SAW yang dikenal karena kesantunannya kepada semua kalangan, termasuk orang yang berbeda keyakinan. Menurut Gus Baha, keberkahan dalam hidup datang dari sikap yang menjaga tata krama dalam hubungan sosial.

Pesan Gus Baha ini mendapat sambutan hangat dari para jamaah. Mereka merasa bahwa pengingat tentang tata krama sangat relevan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan modern yang serba cepat dan sering mengabaikan sopan santun.

Gus Baha mengajak umat Islam untuk terus menjaga kesopanan dalam tutur kata, tindakan, dan sikap, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di dunia digital. Ini adalah langkah penting menuju kehidupan yang penuh berkah dan harmoni.



ARTIKEL TERKAIT