Kamis, 14 Mei 2026 01:56 WIB

Gus Mus Paparkan 2 Pendekatan Orang Beragama


  • Jum'at, 08 Mei 2026 20:35 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menjelaskan bahwa pendekatan manusia dalam beragama pada dasarnya terbagi menjadi dua, yakni karena takut dan karena cinta kepada Allah.

Hal itu disampaikan Gus Mus saat mengisi Ngaji Riyadus Shalihin yang dikutip dari kanal YouTube Gus Mus Channel, Jumat (8/5/2026).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah tersebut, pendekatan karena takut biasanya lebih banyak ditemukan dalam pola keberagamaan yang menitikberatkan aspek fiqih. Sementara pendekatan karena cinta banyak dijalani kalangan sufi.

“Kalau orang sufi pendekatannya cinta. Jadi orang sufi itu sembahyang, puasa karena cinta kepada Allah,” ujar Gus Mus.

Ia mencontohkan bagaimana sebagian orang memaknai kalimat ittaqûllâh sebagai “takutlah kepada Allah”. Menurutnya, pemaknaan tersebut lahir dari pendekatan fiqih yang menempatkan ketakwaan dalam bingkai rasa takut.

Dalam pengajian itu, Gus Mus juga menjelaskan hadits Rasulullah SAW tentang larangan menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki karena kesombongan.

Hadits tersebut berbunyi:

“Allah tidak melihat pada hari kiamat kepada orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong.”

Menurut Gus Mus, hadits tersebut sering dijadikan dasar oleh sebagian orang untuk memakai celana atau jubah di atas mata kaki atau yang dikenal dengan istilah “cingkrang”.

“Dari saking takutnya supaya tidak masuk ‘man jarra izarahu’, makanya dipotong celananya jadi cingkrang,” jelasnya.

Namun Gus Mus menegaskan, memakai pakaian cingkrang bukanlah kesalahan. Yang menjadi persoalan adalah ketika hal tersebut berubah menjadi identitas kesalehan yang dipamerkan kepada orang lain.

“Nah, tapi lama-lama digunakan untuk pamer juga. Dibuat tanda bahwa dia benar-benar takut kepada Allah, bahwa yang takwa itu orang yang kayak gitu. Lha itu malah kebalik lagi,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa inti larangan dalam hadits tersebut bukan terletak pada panjang atau pendeknya pakaian, melainkan pada unsur kesombongan atau batharan.

“Yang penting batharan-nya itu yang dilarang. Bukan karena ngelembre dan tidaknya. Karena orang yang memakai pakaian ngelembre itu ada yang batharan, ada yang tidak,” terang Gus Mus.

Menurutnya, memahami agama tidak cukup hanya berhenti pada simbol-simbol lahiriah, tetapi juga harus melihat niat, akhlak, dan sikap hati dalam menjalankan ajaran agama.



ARTIKEL TERKAIT