- 13 Mei 2026
NAHDLIYIN.COM, Semarang – Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menyampaikan pesan penting kepada generasi muda Nahdliyin menjelang pelaksanaan Muktamar NU mendatang. Ia meminta para aktivis muda NU mengubah pola pikir dari sekadar meramaikan dukungan kandidat menjadi lebih fokus pada perjuangan gagasan, isu strategis, dan program kerja organisasi.
Kiai yang akrab disapa Mbah Ubaid itu menilai dinamika menjelang muktamar selama ini terlalu didominasi perbincangan soal figur dan pertarungan kandidat, sementara pembahasan mengenai arah dan masa depan NU justru kurang mendapat perhatian.
“Selama ini setiap akan ada Muktamar, kita hanya diramaikan dengan kandidat saja. Ribut tentang kandidat, tapi tidak ribut tentang isu dan program apa yang harus diperjuangkan. Ini yang kita sayangkan,” ujar Mbah Ubaid sebagaimana dikutip dari kanal YouTube TVNU, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, generasi muda NU harus tampil menjadi pelopor dalam merumuskan agenda besar Nahdlatul Ulama ke depan. Ia menegaskan, organisasi yang sehat tercermin dari kuatnya tradisi diskusi substantif, bukan sekadar perebutan dukungan politik.
“Generasi muda tolong jangan selalu meributkan siapa kandidatnya. Tapi suarakan apa yang harus dikerjakan NU yang akan datang. Isu apa yang harus dipertegas dan diperkuat,” tegasnya.
Mbah Ubaid berharap forum Muktamar NU nantinya benar-benar menjadi ruang pertarungan ide dan gagasan demi kemajuan jam’iyyah dan jamaah Nahdlatul Ulama.
“Bukan melihat kandidatnya dulu baru bicara visi, tapi isu kita lontarkan dulu sehingga kita disibukkan dalam diskusi tentang program. Itu yang sehat,” imbuhnya.
Selain menyoroti dinamika internal organisasi, Mbah Ubaid juga mengingatkan posisi strategis NU sebagai kekuatan besar bangsa. Menurutnya, NU harus mampu berdiri mandiri dan memberi kontribusi nyata bagi negara tanpa bergantung pada kekuasaan politik tertentu.
“NU itu besar dan berdiri sendiri. NU harus bisa menyumbangkan jasanya untuk bangsa ini tanpa harus bergantung pada rezim tertentu. Kalau tergantung rezim, kita akan terkooptasi dan tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dalam prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, NU juga tidak boleh menempatkan diri sebagai pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Posisi NU, kata dia, adalah menjadi mitra kritis demi perbaikan bersama.
“Dalam koridor Aswaja, kita dilarang menentang pemerintahan yang sah. Namun posisi kita adalah menjadi mitra kritis, berada dalam koridor kritik untuk memperbaiki kita bersama,” tutup Mbah Ubaid.
Pesan tersebut diharapkan menjadi refleksi bagi generasi muda Nahdliyin agar Muktamar NU tidak hanya menjadi ajang perebutan jabatan, tetapi juga momentum melahirkan gagasan besar untuk masa depan Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.