- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) berbagi kisah mengenai kebiasaan buka puasa di keluarganya dan lingkungan pesantren. Dalam tradisi yang diwariskan, Gus Baha menekankan pentingnya memberikan kebebasan bagi setiap individu dalam memilih makanan halal yang diinginkan saat berbuka puasa.
Dalam sebuah dialog bersama Prof. Muhammad Quraish Shihab dan Najwa Shihab, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Najwa Shihab pada Senin (2/2/2025), Gus Baha menjelaskan bahwa di pesantrennya, santri yang masih berusia muda diberikan kebebasan dalam memilih makanan yang disukai. Pendekatan ini tidak hanya diterapkan kepada santri, tetapi juga diikuti oleh para orang tua mereka.
"Karena mereka, para santri, masih anak-anak, mereka harus diservis dengan longgar. Akhirnya, orang tua juga ikut longgar. Longgar dalam arti mereka boleh makan apa saja yang halal dan diinginkan, bukan dalam arti berlebihan," ujar Gus Baha.
Lebih lanjut, Gus Baha mengungkapkan bahwa tradisi tersebut telah diterapkan sejak lama di keluarganya, diwariskan oleh ayahnya, KH Nursalim, serta oleh guru beliau, KH Maimoen Zubair.
Bagi orang-orang saleh, menurut Gus Baha, pilihan makanan apapun yang halal saat berbuka puasa adalah sesuatu yang dikembalikan kepada Allah, sehingga mereka merasa nyaman. Di balik kebebasan dalam memilih makanan, terdapat hikmah lain, yaitu dapat memberikan manfaat bagi para pedagang makanan selama bulan Ramadhan karena meningkatnya daya beli masyarakat.
"Tradisi bapak saya dan Kiai Maimoen Zubair adalah memberikan kelonggaran dalam memilih menu makanan. Karena mereka menyadari bahwa Allah Maha Kaya dan tidak akan menjadi miskin karena hambanya menikmati nikmat yang diberikan-Nya. Allah Maha Baik, sehingga tidak mengapa jika kita menikmati rezeki yang telah Dia sediakan," imbuhnya.
Dalam perspektif ushul fiqih, Gus Baha menambahkan bahwa kebiasaan ini memiliki makna yang lebih dalam. Para ulama di Indonesia memahami bahwa banyaknya godaan maksiat di dunia harus diimbangi dengan upaya menciptakan kenyamanan dalam kebaikan. Oleh karena itu, salah satu bentuk perlawanan para kiai terhadap maksiat adalah dengan melatih masyarakat untuk menikmati hal-hal yang halal, termasuk dalam urusan makanan.
"Para kiai di pesantren membentuk kebiasaan santai, bercanda, dan makan dengan kelonggaran, karena manusia memiliki potensi untuk melakukan maksiat. Oleh sebab itu, perlu diciptakan kondisi di mana mereka bisa merasa nyaman tanpa harus terjerumus dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah," jelasnya.
Gus Baha juga mengutip sebuah kisah dari kitab Shahih Bukhari tentang Nabi Ayub. Setelah melewati ujian berat dari Allah dan kembali mendapatkan kekayaan, Nabi Ayub melihat belalang emas dan mengumpulkannya dalam jumlah banyak. Allah kemudian bertanya mengapa Nabi Ayub mengumpulkan begitu banyak, padahal dia telah diberikan kekayaan. Nabi Ayub menjawab, "Siapa yang bisa merasa cukup dengan rahmat-Mu, ya Allah?"
Dari kisah ini, Gus Baha menyimpulkan bahwa dalam perspektif ushul fiqih, menikmati sesuatu yang halal tanpa berlebihan adalah bentuk syukur kepada Allah. Jika manusia bisa merasakan kebahagiaan dalam ketaatan, mereka tidak akan mencari kesenangan melalui jalan maksiat.
Selain kebiasaan dalam memilih makanan, Gus Baha juga menekankan pentingnya perasaan rendah hati di hadapan Allah ketika sedang lapar dan bersyukur setelah kenyang. Hal ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW yang tercantum dalam hadits riwayat Imam Bukhari:
عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا رُفِعَت مائدته قال: الحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
Dari Abu Umamah al-Bahili RA, ia berkata: "Nabi SAW jika selesai makan selalu mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, lagi penuh berkah. Tidak ada yang mencukupi, menyimpan, atau memberi kekayaan atas makanan itu selain Engkau, wahai Tuhan kami.'"
Gus Baha menegaskan bahwa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, ketika merasa lapar, seseorang harus merasa rendah hati di hadapan Allah, dan ketika kenyang, hendaknya bersyukur serta memuji-Nya. Inilah esensi dari tradisi yang diterapkan di pesantrennya, yaitu keseimbangan antara menikmati nikmat Allah dengan tetap memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.