- 05 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – KH. Zulfa Mustofa menegaskan bahwa makna puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Menurutnya, tantangan terbesar dalam ibadah puasa justru terletak pada kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut saat menyampaikan ceramah Tarawih di Masjid Sunda Kelapa, Rabu (4/3/2026).
Dalam ceramahnya, Kiai Zulfa menjelaskan bahwa banyak orang merasa telah berhasil menjalankan disiplin spiritual ketika mampu menahan lapar sepanjang hari. Namun, keberhasilan itu kerap tidak diiringi dengan kemampuan menahan dorongan emosi, amarah, keserakahan, hingga syahwat kekuasaan.
“Menahan lapar itu mudah, tapi menahan nafsu itu pasti sangat sulit,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena keberagamaan di kota besar yang terkadang terjebak pada simbol dan formalitas. Menurutnya, tidak sedikit orang yang tampak taat secara lahiriah, tetapi gagal menahan dorongan nafsu dalam bentuk lain.
“Ada orang yang kuat puasa Senin-Kamis, tapi kawin melulu. Berarti dia cuma kuat menahan lapar dan minum, tapi syahwat yang lain tidak. Ada juga yang kuat puasa, tetapi berani korupsi. Ini menunjukkan bahwa makna puasa seharusnya lebih luas, termasuk menahan diri dari keserakahan dan penyalahgunaan jabatan,” jelasnya.
Kiai Zulfa menambahkan bahwa hawa nafsu bersemayam dalam diri manusia dan dapat muncul dalam berbagai bentuk yang sering kali tidak disadari.
“Lapar ada waktunya berbuka, tetapi nafsu tidak punya jadwal berhenti,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ibadah puasa sejatinya menjadi sarana melatih kesabaran, kerendahan hati, serta integritas. Jika yang dikendalikan hanya aspek fisik semata, maka perubahan perilaku tidak akan terjadi secara signifikan.
“Percuma kita kuat menahan lapar, tetapi masih mudah marah, mudah mencela, dan sulit menahan diri dari hal-hal yang dilarang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kiai Zulfa mengingatkan bahwa pengendalian nafsu memerlukan kesadaran yang terus-menerus. Hal itu tidak cukup hanya dengan menjalankan ritual ibadah, tetapi juga melalui refleksi diri dan muhasabah.
“Yang berat itu menjaga hati tetap bersih ketika punya kesempatan berbuat curang, menjaga lisan ketika ingin membalas, dan menjaga pikiran dari prasangka buruk,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum membersihkan mata batin dan memperdalam kualitas ibadah. Kiai Zulfa juga mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga, tetapi memperkuat dimensi spiritual melalui khalwat dan dzikir.
“Kebersihan hati itu sangat berpengaruh pada kualitas puasa kita. Jika batin bersih, maka Allah SWT akan memberi anugerah untuk melihat kebenaran,” pungkasnya.