- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Kendal – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan bahwa menjadi kader NU bukan hanya soal status administratif, melainkan sebuah amanah mulia yang mengemban tanggung jawab besar bagi agama, bangsa, dan negara.
Dalam pidatonya di hadapan 2.200 kader penggerak NU Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Minggu (27/4/2025), Gus Ipul mengingatkan pentingnya peran kader NU sebagai penggerak perubahan dan penjaga nilai-nilai kebangsaan.
"Kader NU harus menjadi benteng agama sekaligus benteng bangsa. Berakar kuat pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah, dan membuahkan karya nyata yang bermanfaat bagi umat dan tanah air," tegas Gus Ipul.
Ia mengutip pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Gus Ipul juga mengingatkan inspirasi dari KH. Wahab Hasbullah tentang pentingnya gerakan inovatif yang mampu menjawab tantangan zaman.
"Kader NU tidak cukup hanya aktif di masjid. Mereka harus hadir di kampus, pabrik, pasar, kantor pemerintahan, hingga dunia maya. Di era modern ini, kader NU harus menjadi pelopor inovasi, menguasai teknologi, memperkuat ekonomi umat, dan tetap membawa semangat dakwah yang membangkitkan harapan dan mempersatukan bangsa," lanjutnya.
Lebih jauh, Gus Ipul menekankan bahwa kader NU memiliki tugas menjaga peradaban Islam Nusantara serta membangun Indonesia yang adil, makmur, dan beradab. Ia mengutip KH. Bisri Syansuri, yang menekankan pentingnya menjaga harmoni antara agama dan negara.
"Indonesia adalah amanah, bukan hadiah. Menjaganya adalah ibadah, membangunnya adalah jihad. Setiap jengkal tanah air ini adalah hasil perjuangan para ulama dan pahlawan bangsa," ujar Gus Ipul penuh semangat.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul juga mengajak seluruh kader NU untuk terus merapatkan barisan, memperkuat tekad, dan berinovasi dalam berdakwah dengan akhlak mulia.
"Kita harus melanjutkan model dakwah para ulama pendahulu kita: dakwah yang merangkul, bukan memukul; menghidupkan harapan, bukan menebar ketakutan; menggunakan bahasa cinta, bukan kemarahan; mengajak, bukan mengejek; serta mempersatukan, bukan memecah belah," tutupnya.
Acara ini menjadi momentum penting untuk memperteguh komitmen kader NU sebagai pilar kekuatan agama dan bangsa di tengah dinamika zaman yang terus berubah.