- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Kiai Asep Saifuddin Chalim lahir di Jawa Barat pada tahun 1955. Ia adalah putra bungsu dari KH Abdul Chalim, seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pejuang kemerdekaan, dengan istrinya Nyai Hj Qana’ah. Sejak muda, Kiai Asep telah menapaki jalan panjang penuh perjuangan untuk mencari ilmu. Ia berkelana ke berbagai kota di Pulau Jawa dari Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bandung, Jakarta, Banten, hingga Palembang dan akhirnya bermukim di Surabaya.
Dalam pengembaraan intelektual dan spiritualnya, Kiai Asep tak segan melakukan pekerjaan kasar demi bertahan hidup, termasuk menjadi kuli bangunan. Namun semangat menuntut ilmunya tak pernah padam. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Pesantren Sono dan Siwalanpanji di Sidoarjo, Gempeng di Bangil, Darul Hadir di Malang, serta Pesantren Sidosermo di Surabaya.
Perjalanan pendidikannya sempat terhenti ketika ayahandanya wafat saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Meski demikian, ia tetap melanjutkan pendidikan dengan memperoleh ijazah persamaan dari Pondok Pesantren Al-Khozini Sidoarjo. Tahun 1975, ia diterima di jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tak berhenti di situ, ia juga mengambil program D-3 Bahasa Inggris di IKIP Surabaya, lalu melanjutkan studi ke IKIP Malang. Gelar magister berhasil ia raih dari Universitas Islam Malang pada 1997, dan pada 2004 ia meraih gelar doktor dari Universitas Merdeka Malang.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Kiai Asep mengabdikan diri sebagai guru di SMA Negeri 2 Lamongan selama tujuh tahun. Namun panggilan jiwanya adalah membangun pendidikan Islam yang kokoh dan maju. Pada tahun 1988, ia mendirikan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto, Jawa Timur. Sejak awal, ia bersikeras membangun pesantren ini tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Bersama sang istri, ia membesarkan pondok ini dengan penuh ketekunan dan keyakinan.
Kini, Pondok Pesantren Amanatul Ummah tumbuh menjadi institusi pendidikan Islam modern yang diperhitungkan secara nasional maupun internasional. Bahkan, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo datang langsung ke pondok ini untuk menjalin kerja sama pendidikan. Ciri khas pondok ini terletak pada kedisiplinan spiritual para santrinya, dengan rutinitas tirakat seperti salat qiyamul lail pada pukul 03.00 dini hari dan tadarus Al-Qur’an sebelum dan sesudah Subuh.
Kiai Asep juga dikenal aktif dalam berbagai bidang organisasi dan pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai pengurus PCNU Surabaya, Ketua MUI Surabaya, anggota DPRD Kota Surabaya dari PKB, dan menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Pencapaian santri-santrinya pun mencengangkan. Tahun ini saja, sebanyak 1.237 lulusan Amanatul Ummah diterima di berbagai perguruan tinggi negeri ternama seperti ITB, UI, UGM, IPB, ITS, Unair, Undip, STAN, STIS, UIN dan lain-lain. Tak hanya di dalam negeri, santri Amanatul Ummah juga menembus universitas di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Mesir, Tunisia, Maroko, Malaysia, dan Singapura. Dari jumlah itu, sebanyak 62 santri diterima di fakultas kedokteran sebuah pencapaian luar biasa bagi sebuah pondok pesantren.
Kisah hidup Kiai Asep Saifuddin Chalim merupakan teladan bahwa perjuangan, ketekunan, dan keyakinan mampu mengantarkan seseorang dari titik nol menuju puncak keberhasilan. Dari seorang kuli bangunan hingga menjadi pendiri pesantren bertaraf internasional, jejak langkahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berjuang melalui jalan ilmu dan pengabdian.