- 17 April 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa kosmopolitanisme telah menjadi ciri khas para muassis (pendiri) NU sejak awal berdirinya organisasi. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara bersama Pemimpin Redaksi NU Online, Ivan Aulia Ahsan, pada program Menjadi Indonesia edisi Agustus 2025, Episode ke-26, yang dikutip pada Kamis (14/8/2025).
Gus Yahya menjelaskan, para pendiri NU adalah sarjana-sarjana yang sebagian besar menimba ilmu di Hijaz dan pusat-pusat ilmu dunia Islam. Di tempat-tempat itu, mereka berinteraksi dengan ulama dan intelektual dari berbagai bangsa.
“Itu saja sudah membangun mentalitas kosmopolit mereka, sehingga mereka tidak hanya berpikir tentang Indonesia sebagai arena yang sempit, tapi juga memandang dunia secara luas,” ujarnya.
Menurut Gus Yahya, sejak awal para muassis NU telah terbiasa berdialog dengan berbagai ideologi, bahkan yang saling bertolak belakang. Namun, fokus utama mereka masih pada penguatan jati diri keulamaan, bukan pada dialog ideologis dengan gagasan-gagasan baru. “Mereka lebih mementingkan jati diri keulamaan itu sendiri dulu, belum sampai dialog dengan ideologi-ideologi baru,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada masa awal berdirinya NU, sempat muncul kritik terhadap legitimasi keulamaan para pendiri. Beberapa kiai mempertanyakan sejauh mana mereka dapat mengklaim diri sebagai ulama sejati.
“Dulu standar keulamaan sangat tinggi, mengacu pada tokoh seperti Kiai Nawawi Banten. Jadi, bukan perkara sepele,” jelasnya.
Memasuki generasi kedua NU, pengaruh gagasan Barat mulai terasa lebih nyata. Meski demikian, jejak pengaruh itu sesungguhnya sudah ada sebelumnya, seperti pada Sarekat Islam yang didirikan HOS Tjokroaminoto dan Muhammadiyah yang dirintis Kiai Ahmad Dahlan.
Gus Yahya mencontohkan KH Mahfudz Siddiq sebagai tokoh pascamuassis yang mengembangkan Mabadi Khaira Ummah, gagasan perbaikan umat melalui gerakan ekonomi dan penguatan moralitas Islam dalam praktik ekonomi. Menurutnya, gagasan ini lahir dari kesadaran akan faktor ekonomi dalam dinamika sosial, sebagaimana diasumsikan Marxisme.
Melalui gerakan perubahan ekonomi tersebut, momentum besar seperti krisis ekonomi dan Perang Dunia II semakin menguatkan wacana kebangsaan di kalangan tokoh NU.