Kamis, 16 April 2026 00:54 WIB

Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU Diusulkan Digelar Agustus 2026, Lokasi Masih Dibahas


  • Rabu, 15 April 2026 14:57 WIB

NAHDLIYIN.COM, Tuban – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar, mengharapkan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU digelar pada 1–5 Agustus 2026. Menurutnya, waktu tersebut sesuai dengan siklus muktamar sebelumnya yang juga berlangsung pada bulan Agustus.   

“Pelaksanaan Muktamar NU pada awal Agustus tanggal 01–05 Agustus itu sudah siklus Muktamar, karena Muktamar sebelumnya di Jombang juga Agustus,” ujarnya saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, dikutip dari laman NU Online Jatim pada Selasa (14/4/2026).   

Di hadapan ratusan peserta Muskerwil, Kiai Miftach menjelaskan bahwa lokasi Muktamar ke-35 NU hingga kini masih belum dipastikan. Beberapa opsi yang mengemuka antara lain Surabaya, Jakarta, pesantren di Situbondo, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Sumatera Barat.

“Soal tempat, kita rapatkan dulu, apakah Surabaya atau Jakarta, bisa juga pesantren, apakah di Pesantren Walisongo Situbondo asuhan KH Cholil Asad atau pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta, ataukah di Sumbar yang didukung tiga provinsi,” jelasnya.

Selain persoalan teknis, ia menekankan pentingnya kembali pada sejarah NU yang lahir dari tradisi pesantren. Menurutnya, sistem kaderisasi ala pesantren telah ada sejak masa Rasulullah melalui ashabush shuffa yang melahirkan tokoh-tokoh besar.   

Dalam konteks sejarah NU, ia juga menyinggung peran ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan KH Cholil Bangkalan yang memberi isyarah berdirinya NU melalui simbol-simbol tertentu. Amanah tersebut kemudian ditegaskan dalam Qonun Asasi NU.   

Namun demikian, Kiai Miftach menilai bahwa warga NU belum sepenuhnya mengoptimalkan potensi tersebut, terutama dalam bidang ekonomi. Ia menyebut mayoritas warga NU masih belum unggul secara ekonomi meski jumlahnya sangat besar.

Sementara itu, Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abd Matin Djawahir, dalam pembukaan Muskerwil juga menegaskan pentingnya mengembalikan NU pada Qonun Asasi serta memperkuat posisi Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi organisasi.   

Ia menyampaikan pesan Rais PWNU Jatim, KH Anwar Manshur, agar seluruh elemen NU mendukung suksesnya Muktamar 2026 dan mengikuti keputusan Rais Aam PBNU terkait waktu dan tempat pelaksanaan.   

“Jangan sampai ada lembaga di atas PBNU, apapun namanya. Tidak boleh ada yang lebih tinggi dari Rais Aam dan tidak boleh ada yang menghakimi Rais Aam. Supremasi Syuriyah harus betul-betul kita perhatikan,” tegasnya.

Harapan Rais Aam PBNU dan Rais PWNU Jatim itu dirumuskan peserta Muskerwil dalam masukan/usulan untuk Munas/Konbes dan Muktamar ke-35 NU, di antaranya tiga pilar pendampingan pemberdayaan ekonomi (UMKM, hilisari pertanian/perhutanan sosial, Filantroopi/ZIS), Layanan Kesehatan/farmasi berbasis jamaah RSNU/klinik, pelembagaan Aswaja dan AHWA.



ARTIKEL TERKAIT