- 13 Mei 2026
NAHDLIYIN.COM, Manado – Ratusan santri, imam, dan marbot dari berbagai penjuru Kota Manado memadati kampus IAIN Manado, Ahad (26/10/2025). Mereka hadir dalam Gebyar Hari Santri 2025 yang digelar oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Manado, membawa satu semangat besar: merawat toleransi dan kebersamaan di tengah keberagaman.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Manado, KH Rikson Hasanati, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran santri dalam menjaga keutuhan bangsa melalui semangat kebangsaan dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
“Santri harus menjadi garda depan dalam mempertahankan nilai-nilai Pancasila dan keutuhan NKRI. Kerukunan yang kita lihat di Manado hari ini adalah wujud nyata semangat itu,” ujar Kiai Rikson.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan penghargaan khusus kepada Wali Kota Manado, Andrei Angouw, atas komitmen dan teladannya dalam membangun kerukunan antarumat beragama.
“Pak Andrei telah menjadi contoh kepemimpinan yang mampu menghadirkan suasana harmoni dan memperkuat semangat toleransi di tengah masyarakat yang beragam,” tambahnya.
Kiai Rikson yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafiq Nurul Hidayah itu mengutip falsafah santri yang dipegang teguh Nahdlatul Ulama, maa ziltu thaliban — selamanya aku tetaplah santri.
Falsafah ini, katanya, mencerminkan kerendahan hati, semangat pengabdian tanpa batas, serta komitmen kebangsaan yang terus dijaga.
Aksi Sosial dan Penguatan Ukhuwah
Selain upacara dan tausiyah kebangsaan, Gebyar Hari Santri juga diisi bakti sosial bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Beragam bantuan disalurkan, mulai dari kacamata baca dan minus, paket sembako, hingga santunan bagi para santri, imam, dan marbot di wilayah Kota Manado.
Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Utara, KH Ulyas Taha, yang turut hadir, memuji langkah aktif PCNU Manado dalam kegiatan sosial dan dakwah.
“Peringatan Hari Santri bukan hanya seremoni, tapi momentum untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan dan pengabdian santri terhadap bangsa,” tegasnya.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Rois Syuriah PWNU Sulut KH Sya’ban Mauludin, Rektor IAIN Manado Prof. Ahmad Rajafi, Kepala Kemenag Kota Manado Hj. Rogaya Udin, serta perwakilan Kapolresta Manado dan BPN Sulut.
Dalam suasana Manado yang dikenal damai dan terbuka, kegiatan ini menjadi penegas bahwa nilai-nilai santri bukan hanya milik pesantren, tapi juga milik kebangsaan.
Semangat kebersamaan lintas iman yang tumbuh di kota ini menjadi contoh nyata bagaimana santri dan masyarakat dapat berjalan seiring menjaga Indonesia tetap rukun dan bersatu.