- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membentuk tim investigasi untuk mengusut dugaan sabotase yang menyerang sistem dan tata kelola organisasi. Keputusan tersebut diambil dalam rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah yang digelar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (13/12/2025).
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Imron Rosyadi Hamid mengatakan tim investigasi tersebut melibatkan ahli teknologi informasi (IT) guna menelusuri secara menyeluruh dugaan sabotase yang terjadi.
“Tadi sudah dibahas dalam rapat. Kita membentuk tim investigasi dan melibatkan ahli IT,” ujar Gus Imron kepada wartawan usai rapat.
Ia menyebutkan, dalam rapat tersebut telah muncul dua nama yang akan masuk dalam tim investigasi. Namun, keduanya belum dapat diumumkan ke publik karena masih menunggu pengesahan melalui surat keputusan (SK) pimpinan PBNU.
“Ada dua nama yang sudah disebut, tetapi belum bisa kami sampaikan sekarang karena harus ditetapkan terlebih dahulu dengan SK,” jelasnya.
Gus Imron mengungkapkan, dugaan sabotase tersebut telah terjadi sejak 21 November 2025. Salah satu bentuknya adalah penghilangan hak stamping Rais Aam PBNU dalam sistem organisasi.
“Sejak 21 November 2025 sudah ada upaya sabotase terhadap sistem Digdaya PBNU, termasuk penghilangan hak stamping Rais Aam. Ini serius, karena menyangkut kewenangan pemimpin tertinggi di NU,” tegasnya.
Menurut Gus Imron, tindakan tersebut dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan berpotensi mengganggu ketertiban organisasi. Oleh karena itu, PBNU memandang perlu melakukan investigasi secara profesional dan objektif.
Saat ini, tim investigasi telah mulai bekerja. Hasil penyelidikan akan segera dilaporkan kepada Rais Aam PBNU dan disampaikan kepada publik sesuai dengan perkembangan yang ada.
“Tim akan bekerja secepatnya dan melaporkan hasil investigasi kepada Rais Aam. Nantinya, hasilnya juga akan kami sampaikan kepada publik,” pungkasnya.