Rabu, 07 Januari 2026 06:59 WIB

KH Zulfa Mustofa Dorong Santri Tetap Aktif Berorganisasi Usai Lulus Pesantren


  • Senin, 05 Januari 2026 14:18 WIB

NAHDLIYIN.COM, Rembang – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mendorong para santri agar tetap aktif berorganisasi setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Menurutnya, aktivitas organisasi merupakan bagian penting dari pengamalan ilmu sekaligus sarana membentuk tanggung jawab sosial santri di tengah masyarakat.

“Santri harus tetap ngaji di mana pun dan sampai kapan pun. Setelah lulus, tetaplah aktif berorganisasi, khususnya di badan otonom NU seperti IPNU, IPPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat, dan Nahdlatul Ulama,” ujar KH Zulfa.

Pesan tersebut disampaikan saat memberikan tausiyah dalam acara Haflah Akhirussanah ke-11 Pondok Pesantren Kauman Lasem, yang dirangkai dengan haul para masyayikh serta khatmil Qur’an bagi santri dan santriwati penghafal 30 juz, Ahad (4/1/2026).

Dalam tausiyahnya, KH Zulfa mengulas jejak perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama asal Lasem, yakni KH Ma’shum Ahmad, KH Baidlowi Abdul Aziz, dan KH Kholil Masyhuri. Ia menilai, ketiganya tidak hanya memiliki kedalaman ilmu syariat, tetapi juga kecakapan dalam mengelola organisasi.

“Para ulama ini tidak hanya memahami fiqhus syariah, tetapi juga fiqhul jam’iyah,” tegasnya.

KH Zulfa menjelaskan, fiqhus syariah berkaitan dengan penguasaan hukum-hukum Islam, sementara fiqhul jam’iyah menyangkut pemahaman tata kelola organisasi yang tertib, beretika, dan bertanggung jawab. Menurutnya, ulama ideal adalah sosok yang mampu memadukan keduanya.

“Beliau-beliau ini alim dalam urusan syariat, mumpuni dalam forum bahtsul masail, dan pada saat yang sama paham bagaimana mengelola organisasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan sosok KH Ma’shum Ahmad Lasem yang dikenal memiliki banyak murid dan karya keilmuan. Hal tersebut, menurutnya, menjadi bukti kapasitas Kiai Ma’shum sebagai ulama syariat sekaligus tokoh organisatoris yang berperan dalam pendirian NU.

KH Zulfa menegaskan bahwa nilai-nilai organisasi tidak hanya relevan di lingkungan NU, tetapi juga penting diterapkan dalam kehidupan sosial, kemasyarakatan, hingga politik, selama tetap berlandaskan etika dan kemaslahatan.



ARTIKEL TERKAIT