Kamis, 22 Januari 2026 21:19 WIB

Gus Yahya: Digitalisasi Jadi Kunci Pesantren Menjawab Tantangan Zaman


  • Kamis, 22 Januari 2026 15:31 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa digitalisasi merupakan kunci strategis bagi pesantren untuk mampu bertahan dan beradaptasi menghadapi perubahan zaman yang kian cepat. Menurut Gus Yahya, tantangan masa depan datang semakin mendesak dan menuntut kesiapan pesantren untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan, terutama di bidang teknologi.

“Betapa masa depan bagi kita ini semakin menekan. Masa depan terasa datang lebih cepat dan menuntut kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi,” ujar Gus Yahya saat peluncuran Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI) di Lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).

Gus Yahya mengakui bahwa secara historis pesantren kerap tertinggal dalam merespons perubahan zaman. Bahkan, pada fase awal kemerdekaan hingga integrasi pendidikan ke dalam sistem global, pesantren tidak serta-merta mengikuti arus perubahan, bahkan cenderung bersikap resistif. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa terus dipertahankan, terutama setelah hadirnya internet yang membawa perubahan fundamental dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

“Perubahan ini bergerak semakin cepat dan memengaruhi pola budaya serta hubungan antargenerasi. Pesantren tidak bisa lagi berada di luar arus besar perubahan tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejak awal pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, isu digitalisasi telah menjadi salah satu prioritas utama. Gus Yahya menilai, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak mungkin lagi dikelola dengan cara-cara manual. Digitalisasi menjadi keniscayaan agar tata kelola organisasi dan lembaga pendidikan di bawah NU, termasuk pesantren, dapat berjalan lebih efektif dan berdaya saing.

Sementara itu, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Arief menyoroti dampak luas perkembangan teknologi digital terhadap cara berpikir, belajar, dan berinteraksi masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren. Ia mengakui bahwa sebagian pesantren masih menyimpan sikap waspada terhadap teknologi informasi karena kekhawatiran akan potensi mafsadah.

Namun demikian, Kiai Hodri menegaskan bahwa sikap waspada tersebut tidak boleh berhenti pada penolakan. Pesantren justru dituntut untuk mengambil kemaslahatan baru dari perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri dan tradisi keilmuannya.

“Sikap waspada terhadap kemajuan teknologi informasi tidak bisa dibiarkan hanya menjadi kewaspadaan semata. Harus ada langkah serius al-akhdzu bil jadidil ashlah, mengambil hal baru yang lebih maslahat tanpa kehilangan akar tradisi pesantren,” tegasnya.

Peluncuran Gerakan Pesantren Cakap AI ini menjadi penanda komitmen PBNU dalam mendorong pesantren agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara bijak, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman serta tradisi pesantren.



ARTIKEL TERKAIT