- 27 Januari 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Bulan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam kalender qamariyah. Secara etimologis, kata Sya’ban berarti “terpisah”, merujuk pada posisinya yang berada di antara dua bulan mulia, yakni setelah Rajab dan sebelum Ramadhan. Momentum ini dinilai penting sebagai masa persiapan spiritual menuju bulan suci.
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) DKI Jakarta, KH Masruhin Abdul Majid, mengajak umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, malam pertengahan Sya’ban memiliki keutamaan besar sekaligus menjadi sarana memperkuat kesiapan ruhani menjelang Ramadhan.
“Kalimah para ulama menyebut Nisfu Sya’ban sebagai malam penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa. Ini kesempatan besar bagi umat Islam untuk bermunajat dan meningkatkan kualitas amal,” ujar Kiai Masruhin di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, malam Nisfu Sya’ban dikenal dengan berbagai sebutan mulia, di antaranya Lailatul Mubarakah (malam keberkahan), Lailatul Bara’ah (malam pembebasan), Lailatul Qismatit Taqdir (malam penetapan takdir), dan Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa).
Kiai Masruhin juga mengutip pendapat Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm yang menyebutkan lima malam mustajab untuk berdoa, yaitu malam Jumat, malam Idulfitri, malam Iduladha, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Al-Baihaqi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Allah SWT membuka pintu ampunan, rezeki, dan pertolongan bagi hamba-Nya hingga terbit fajar, serta menganjurkan shalat malam dan puasa di siang harinya.
Adapun amalan yang dapat dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban, lanjutnya, antara lain memperbanyak istighfar, melaksanakan shalat sunnah seperti tahajud, tasbih, atau shalat hajat, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa dengan penuh kekhusyukan.
“Selain ibadah personal, menjaga kebersihan hati juga penting, seperti mempererat silaturahim, saling memaafkan, dan bersedekah. Semua itu bagian dari ibadah dan refleksi diri,” jelasnya.
Ia berharap umat Islam dapat memanfaatkan momentum Nisfu Sya’ban untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, sehingga memasuki bulan Ramadhan dalam kondisi siap lahir dan batin.
“Semoga Allah melimpahkan keberkahan di bulan Sya’ban dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan penuh kesiapan ibadah,” pungkasnya.