- 11 Februari 2026
NAHDLIYIN.COM, Bandarlampung – Peran tokoh agama dinilai semakin strategis dalam menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat, khususnya di tengah keberagaman Kota Bandarlampung. Nahdlatul Ulama (NU) disebut terus berkontribusi merawat toleransi melalui pendekatan keagamaan yang sejuk, moderat, dan inklusif.
Tokoh muda NU Lampung, Khoidir Bujung, menegaskan bahwa toleransi merupakan nilai yang secara jelas dianjurkan dalam ajaran Islam. Menurutnya, kerukunan antarumat beragama menjadi fondasi penting agar persatuan masyarakat tetap kokoh.
“Dari kacamata anak muda, toleransi itu merupakan satu hal yang dianjurkan,” ujar Khoidir, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, sejak awal berdiri, NU konsisten mengembangkan corak Islam yang membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Islam, kata dia, mengajarkan agar umatnya hadir sebagai rahmat dan memberi manfaat bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Khoidir menambahkan, konsep persaudaraan dalam NU tidak terbatas pada sesama Muslim. NU juga menanamkan nilai Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), selain Ukhuwah Islamiyah. Tiga prinsip ini menjadi pegangan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah perbedaan keyakinan.
“Persaudaraan ini harus menjadi kesadaran bersama dan terus kita rajut,” tegasnya.
Menurutnya, menjaga harmoni tidak cukup hanya melalui wacana, tetapi harus dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk ruang pergaulan anak muda. Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi yang sehat, saling menghargai, serta mencegah provokasi yang dapat memecah belah persatuan.
Khoidir juga menyampaikan bahwa NU terus mendorong penguatan toleransi melalui berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang melibatkan lintas elemen masyarakat. Ia berharap nilai kerukunan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari warga Bandarlampung.
“Kerukunan harus terasa nyata, bukan hanya menjadi narasi. Itu tugas kita bersama,” pungkasnya.