- 24 Juni 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, melakukan kunjungan silaturahmi ke Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Lantai 3 Gedung PBNU itu berlangsung hangat dan membahas berbagai peluang penguatan kerja sama antara Nahdlatul Ulama dan Kerajaan Maroko, khususnya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan.
Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Maroko, terutama dalam bidang pendidikan, telah terjalin erat selama bertahun-tahun. Salah satu bentuk kerja sama yang terus berjalan adalah program beasiswa bagi pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Maroko.
“Termasuk ada beasiswa yang khusus diberikan melalui NU, sekitar 20 beasiswa setiap tahun. Kita memiliki banyak pelajar dan mahasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Maroko sampai sekarang ini,” ujar Gus Ulil kepada wartawan usai pertemuan.
Selain membahas kerja sama pendidikan, Dubes Maroko juga mengusulkan pembentukan forum dialog yang mempertemukan para ulama, akademisi, cendekiawan, dan pemikir dari kedua negara. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah pertukaran gagasan sekaligus memperkuat penyebaran nilai-nilai Islam moderat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Beliau mengusulkan tahun depan akan diadakan forum Maroko di Indonesia, di mana para ulama dan pemikir dari dua negara akan bertemu,” kata Gus Ulil.
Menurutnya, Maroko memiliki pengalaman penting dalam menghadapi tantangan ekstremisme keagamaan yang dapat menjadi bahan diskusi dan pembelajaran bersama dengan Indonesia. Karena itu, kerja sama intelektual dan keagamaan antara kedua negara dinilai semakin relevan untuk diperkuat.
“Kalau kita melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, Maroko menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menghadapi ekstremisme keagamaan. Dua negara bisa mendiskusikan masalah ini dan saling berbagi pengalaman,” ujarnya.
Gus Ulil juga mengungkapkan bahwa hubungan Indonesia dan Maroko akan memasuki fase yang lebih strategis. Salah satu agenda besar yang tengah dipersiapkan adalah penandatanganan kemitraan strategis antara kedua negara yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2029.
Menurutnya, target tersebut membutuhkan fondasi kerja sama yang kuat sejak sekarang, termasuk melalui penguatan hubungan antara Kerajaan Maroko dan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.
“Menuju ke sana membutuhkan persiapan yang panjang. Karena itu kerja sama kedua negara, termasuk antara Kerajaan Maroko dan NU, perlu terus diperkuat,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Dubes Maroko juga menegaskan pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam menjaga dan mengembangkan pemahaman Islam yang moderat, adil, dan tawassuth di tengah meningkatnya tantangan ekstremisme di berbagai belahan dunia.
“Tadi Dubes juga menekankan pentingnya peran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dalam mengembangkan pemahaman Islam yang berimbang, moderat, dan membawa kemaslahatan,” tutur Gus Ulil.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara Nahdlatul Ulama dan Kerajaan Maroko, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan, kebudayaan, dialog keagamaan, dan penguatan nilai-nilai Islam moderat di tingkat global.