- 30 Juni 2026
NAHDLIYIN.COM, Kudus – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan pentingnya menjaga independensi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi berbagai dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU tahun 2026.
Menurut Gus Rozin, independensi yang dimaksud adalah kemampuan NU untuk tetap bebas berpikir, menentukan arah perjuangan secara mandiri, serta tidak terpengaruh oleh kepentingan politik maupun tekanan dari pihak mana pun.
"Yang saya rindukan adalah suasana NU yang benar-benar independen, organisasi yang mampu berpikir jernih dan menentukan langkahnya sendiri tanpa dibayangi rasa cemas ataupun kepentingan tertentu," ujarnya saat membuka Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV yang digelar Lakpesdam PWNU Jawa Tengah bekerja sama dengan UIN Sunan Kudus, Jumat (26/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Gus Rozin mengenang pesan Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menurutnya hingga kini tetap relevan bagi perjalanan organisasi.
Ia mengisahkan, dalam salah satu forum muktamar, Gus Dur pernah mengingatkan agar NU tidak merasa bangga hanya karena memiliki kedekatan dengan penguasa, meskipun saat itu Gus Dur sendiri sedang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
"Pesan Gus Dur sangat penting. Beliau mengingatkan agar NU tidak berbangga hanya karena dekat dengan kekuasaan. Justru independensi itulah yang harus dijaga," tuturnya.
Gus Rozin menilai penyelenggaraan MIP IV memiliki makna strategis karena berlangsung setelah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Kediri, sekaligus menjadi salah satu ikhtiar intelektual menjelang Muktamar ke-35 NU.
Ia berharap semangat keilmuan yang lahir dari forum tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pelaksanaan muktamar organisasi yang berlangsung damai dan penuh kedewasaan.
"Muktamar yang akan datang adalah muktamar damai sebagaimana muktamar pagi ini," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa yang harus dimenangkan dalam Muktamar NU bukanlah persaingan antarkelompok maupun kandidat ketua umum, melainkan kejernihan berpikir dan kebeningan hati dalam merumuskan masa depan Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrahman Kasdi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai tuan rumah penyelenggaraan MIP IV.
Menurutnya, forum tersebut merupakan kelanjutan tradisi intelektual yang telah dibangun sejak 2023 sebagai upaya memperkuat sanad keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama, khususnya di Jawa Tengah.
Ia menegaskan bahwa MIP tidak boleh berhenti sebagai forum diskusi akademik semata, melainkan harus mampu melahirkan gagasan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
"Ilmu pengetahuan harus menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, sains, teknologi, humaniora, dan ilmu-ilmu keagamaan harus berjalan secara terpadu agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai, terutama nilai-nilai keagamaan," pungkasnya.