- 07 Juli 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pesantren Luhur Ciganjur menggelar Halaqah Pra-Muktamar bertajuk "Quo Vadis NU: Apakah NU Masih Milik Umat?" di Pesantren Luhur Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (4/7/2026) malam. Forum tersebut menghasilkan sejumlah seruan moral, salah satunya mengingatkan agar NU tetap menjaga independensinya dan tidak terkooptasi oleh kepentingan pemerintah.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah kader muda NU sebagai panelis dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari organisasi keagamaan, pelajar, hingga mahasiswa. Diskusi ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai arah dan masa depan organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pengasuh Pesantren Luhur Ciganjur, KH Arief Rachman Hamid Baidlowi, menegaskan bahwa NU merupakan organisasi besar yang mampu bertahan lebih dari satu abad karena dibangun di atas fondasi perjuangan para ulama pendiri yang penuh keteladanan.
"Jarang ada organisasi yang dapat bertahan lebih dari 100 tahun. Namun, NU bukanlah organisasi biasa karena bersandar pada kebijaksanaan dan barokah para ulama pendiri (founding fathers) NU," ujar KH Arief Rachman dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU harus terus menjadi pijakan dalam menentukan arah perjuangan organisasi agar tetap berpihak kepada umat dan tidak kehilangan jati dirinya.
Pandangan senada disampaikan Ketua Alumni Pesantren Luhur Ciganjur, KH Syaifullah Amin. Ia menilai kepemimpinan NU semestinya berorientasi pada kepentingan warga Nahdliyin, bukan sekadar perebutan jabatan.
"Halaqah Pra-Muktamar ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan generasi muda Nahdliyin terhadap kondisi yang terjadi di tingkat pimpinan NU saat ini. NU bukan sekadar perebutan posisi jabatan. Karena itu, pimpinan NU tidak perlu lagi sibuk memikirkan harus setia kepada siapa. Kesetiaan seharusnya hanya diberikan kepada warga Nahdliyin," tegasnya.
Sementara itu, Lurah Pesantren Luhur Ciganjur, Muhammad Fadhil Bilad, menjelaskan bahwa penyelenggaraan halaqah merupakan inisiatif para santri dan alumni sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan NU.
Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan aspirasi yang konstruktif bagi organisasi, sekaligus mengingatkan pentingnya menjalankan amanat AD/ART NU, khususnya terkait peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan kesehatan, advokasi masyarakat yang terpinggirkan, serta penguatan ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan yang lebih merata.
Dari hasil diskusi, peserta halaqah merumuskan lima butir seruan moral sebagai masukan menjelang Muktamar ke-35 NU. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah dorongan agar NU tetap menjaga independensi organisasi dan tidak terkooptasi oleh pemerintah dalam menjalankan peran serta fungsinya.
Selain itu, forum juga menyerukan agar seluruh kebijakan organisasi tetap berpedoman pada AD/ART NU. Peserta mendorong agar NU semakin menguatkan peran advokasi, pemberdayaan ekonomi warga, peningkatan kesejahteraan, serta pemerataan kemakmuran bagi masyarakat.
Menutup forum, peserta halaqah mengajak seluruh jajaran pimpinan NU untuk mengedepankan kebijaksanaan, memperkuat persatuan, dan menghindari konflik internal demi menjaga soliditas organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.