Jum'at, 07 Agustus 2026 03:46 WIB

Sejumlah Kandidat Ketum PBNU Hadiri Peluncuran Buku KH Ma`ruf Amin, Bahas Arah Fikroh hingga Kemandirian NU


  • Kamis, 06 Agustus 2026 16:06 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Sejumlah tokoh yang disebut-sebut bakal bertarung dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU tampak hadir dalam peluncuran buku terbaru Mustasyar PBNU, Prof. KH Ma'ruf Amin, berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin. Acara berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.

Momentum peluncuran buku tersebut menjadi ajang silaturahmi para tokoh Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Tokoh yang hadir di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.

Dalam sambutannya, KH Ma'ruf Amin menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas kehadiran para tokoh NU, termasuk mereka yang kini masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

"Selain Ketua Umum, juga hadir banyak calon ketua umum. Ada yang sudah diumumkan, ada yang sudah deklarasi, dan ada yang belum deklarasi. Saya ingin menyampaikan terima kasih," ujar KH Ma'ruf disambut tepuk tangan para hadirin.

NU Harus Berjalan dengan Arah yang Jelas

Melalui buku tersebut, KH Ma'ruf Amin mengulas tiga pilar utama yang menjadi fondasi gerakan Nahdlatul Ulama, yakni fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).

Menurutnya, buku itu lahir dari keprihatinan atas masih banyaknya warga NU yang menjalankan berbagai amaliah keagamaan tanpa memahami landasan berpikir dan arah perjuangan organisasi secara utuh.

Ia menegaskan bahwa NU tidak cukup dipahami hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebuah sistem perjuangan yang memiliki pedoman, nilai, dan arah gerakan yang jelas.

"NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan)," tegasnya.

Pesan tersebut, kata KH Ma'ruf, merupakan penegasan kembali atas arah perjuangan yang pernah ia sampaikan di hadapan para masyayikh saat pertemuan di Bangkalan pada Juni 2026.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga khittah Nahdlatul Ulama sebagaimana diwariskan para muassis (pendiri), baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun bertindak.

Menurutnya, gerakan NU harus dijalankan melalui tiga fungsi utama, yaitu himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan). Ketiga fungsi tersebut diwujudkan dalam tiga bidang pengabdian, yakni harakah diniyyah (keagamaan), harakah wathaniyyah (kebangsaan), dan harakah iqtishadiyyah (ekonomi).

Soroti Pentingnya Kemandirian Ekonomi Warga NU

Selain membahas aspek pemikiran dan gerakan organisasi, KH Ma'ruf Amin juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan ekonomi warga Nahdlatul Ulama.

Ia mengulas sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918 yang dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah bersama Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari sebagai fondasi kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

Dalam konteks kekinian, semangat tersebut diwujudkan melalui Gerakan Koin NU yang dirintis di Sragen pada 2015 oleh KH Ma'ruf Islamuddin dan kemudian berkembang menjadi gerakan nasional melalui Kirab Koin Raksasa Banten–Banyuwangi pada 2018.

Menurut KH Ma'ruf, gerakan tersebut membuktikan bahwa kontribusi kecil yang dilakukan secara kolektif mampu melahirkan kekuatan ekonomi yang besar dan mandiri.

Lebih jauh, ia menawarkan konsep tasyri'iyyah al-iqtishadiyyah, yakni menghadirkan prinsip-prinsip fikih muamalah ke dalam regulasi, akad, dan kebijakan ekonomi syariah demi mewujudkan keadilan distributif.

Di akhir pemaparannya, KH Ma'ruf mengajak seluruh warga NU untuk berorganisasi secara 'alā baṣīrah, yakni berlandaskan ilmu, keyakinan, dan argumentasi yang kuat, bukan sekadar mengikuti tradisi.

Ia juga menegaskan bahwa semangat hubbul wathan atau cinta tanah air harus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam membangun bangsa, sehingga Nahdlatul Ulama terus menjadi organisasi yang menjaga nilai keislaman, kebangsaan, dan kemaslahatan umat.



ARTIKEL TERKAIT