Rabu, 16 September 2026 15:03 WIB

NU Peduli NTT Kembali Salurkan Bantuan Logistik, Sekolah di Ngada Masih Gunakan Tenda Darurat


  • Selasa, 15 September 2026 15:13 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Sebulan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026), kondisi warga terdampak masih memprihatinkan. Sebagian warga masih bertahan di posko pengungsian maupun tenda mandiri karena rumah mereka mengalami kerusakan.

Kondisi serupa terjadi pada aktivitas pendidikan. Sejumlah sekolah yang terdampak gempa masih memanfaatkan tenda darurat sebagai ruang belajar. Namun, kondisi tenda yang digunakan dinilai jauh dari kata layak.

Di tengah situasi tersebut, NU Peduli NTT terus menyisir wilayah-wilayah yang belum atau masih minim tersentuh bantuan. Upaya itu dilakukan untuk memastikan warga terdampak yang berada di lokasi terpencil tetap mendapatkan perhatian dan bantuan.

Koordinator NU Peduli NTT wilayah Ngada, Irfanuddin, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngada untuk memetakan wilayah yang membutuhkan bantuan.

“Kami terus menyisir wilayah-wilayah yang kurang tersentuh hingga belum tersentuh sama sekali. NU Peduli NTT ini juga terus berkoordinasi dengan BPBD Ngada supaya bantuan tepat sasaran. Dari BPBD Ngada diarahkan ke lokasi yang kita bagikan ini karena benar-benar belum terdapat bantuan atau sangat minim tersentuh,” kata Irfan, Senin (14/9/2026).

Ratusan paket bantuan kemudian disalurkan ke sejumlah wilayah, yakni Ruing Barat, Bajawa Utara, Golewa Selatan, dan Golewa.

Bantuan logistik yang diberikan meliputi beras, air mineral, minyak goreng, telur, biskuit, makanan ringan, serta jajanan untuk anak-anak.

Namun, kebutuhan warga terdampak ternyata tidak berhenti pada bantuan makanan. Banyak rumah mengalami rusak berat, roboh sebagian, bahkan hancur seluruhnya. Akibatnya, sebagian warga masih bertahan menggunakan tenda mandiri yang dibuat dari terpal bekas, bahkan beberapa di antaranya sudah berlubang.

“Mereka menyampaikan bahwa logistik makanan penting, tapi mereka juga membutuhkan selimut, alas tidur yang layak, terpal yang layak,” ujar Irfan.

Anak-anak Belajar di Tenda yang Bocor

Keprihatinan juga terlihat dari kondisi pendidikan. Saat menyisir wilayah terdampak, Irfan menemukan anak-anak masih harus belajar di tenda darurat yang terbuat dari terpal sambung-menyambung.

Kondisi tenda tersebut dinilai tidak memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, terlebih ketika hujan turun.

“Ketika saya lihat tenda darurat itu jauh dari kata layak karena tendanya saling sambung-sambung jadi kayak dari terpal yang disambung-sambung. Saya yakin kalau hujan pasti kehujanan karena masih sambung-sambung dan bolong-bolong,” ucapnya.

Menurut Irfan, kondisi tersebut membuat proses belajar anak-anak menjadi kurang nyaman. Mereka membutuhkan tenda yang lebih aman dan mampu melindungi dari hujan.

“Kalau seperti itu kegiatan belajar juga kurang nyaman, pasti membutuhkan terpal yang mungkin aman, tidak bocor. Sampai sekarang dari pemerintah belum memberikan tenda darurat untuk anak-anak bersekolah,” lanjutnya.

Sebulan berlalu, kebutuhan warga Flores belum sepenuhnya selesai. Selain logistik, mereka masih membutuhkan perlengkapan dasar untuk bertahan hidup, tempat tinggal yang lebih layak, hingga ruang belajar yang aman bagi anak-anak.

NU Peduli NTT pun terus bergerak menyisir wilayah terdampak agar bantuan tidak hanya berhenti di lokasi yang mudah dijangkau, tetapi juga sampai kepada warga yang masih minim tersentuh bantuan.



ARTIKEL TERKAIT