Jum'at, 18 September 2026 15:09 WIB

Gus Rozin Dorong Upgrade Skill Relawan NU Sebelum Bencana Datang


  • Jum'at, 18 September 2026 14:21 WIB

NAHDLIYIN.COM, Semarang –

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah terus mendorong penguatan kapasitas dan keterampilan relawan sebagai bagian dari upaya membangun sistem tanggap bencana yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis komunitas.

Hal tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin saat membuka Training Manajemen Bencana NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah di Gedung PWNU Jawa Tengah, Semarang, Jumat (18/9/2026).

Gus Rozin menekankan, peningkatan kapasitas relawan perlu dilakukan secara berkala, terutama ketika bencana belum terjadi. Menurutnya, latihan dan persiapan menjadi kunci agar relawan memiliki kesiapan menghadapi berbagai kondisi darurat.

“Kita upgrade skill para relawan kita dengan sebaik-baiknya, mumpung bencana belum datang,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya latihan secara rutin untuk memastikan struktur tanggap bencana NU dapat bekerja secara efektif dan responsif ketika situasi darurat terjadi.

“Struktur kita soal tanggap bencana secara real time,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Rozin secara resmi membuka pelatihan yang mengusung semangat Community Emergency Response Partnership, Skills for Safety, Neighbors for Each Other.

“Atas nama PWNU Jawa Tengah, acara hari ini secara resmi, acara Community Emergency Response Partnership, Skills for Safety, Neighbors for Each Other, pelatihan massal kira-kira begitu, ini dibuka secara resmi dengan membaca basmalah,” ucapnya.

Membangun Budaya Kesiapsiagaan

Sementara itu, perwakilan NU Care-LAZISNU PBNU Muhammad Iqbal Luthfi mengatakan, kesiapsiagaan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

“Ada sebuah ungkapan sederhana yang mungkin sering kita dengar. Bencana tidak selalu bisa kita cegah, akan tetapi dampak bencana dapat kita kurangi. Dan salah satu cara terbaik untuk mengurangi dampak bencana itu adalah dengan kesiapsiagaan kita,” jelasnya.

Menurut Iqbal, pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengetahuan mengenai kebencanaan, tetapi juga membangun pengalaman dan keterampilan praktis dalam menghadapi situasi darurat.

Peserta mendapatkan materi sekaligus praktik menghadapi berbagai kondisi, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran, pertolongan pertama, CPR, hingga berbagai kondisi kegawatdaruratan lainnya.

“Akan tetapi Bapak, Ibu sekalian, kita hari ini sedang membangun suatu kesadaran. Kita sedang membangun budaya kesiapsiagaan kita di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.

Iqbal menjelaskan, masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana kerap menjadi pihak pertama yang tiba di tempat kejadian sebelum petugas atau lembaga penanggulangan bencana.

“Sebab ketika bencana terjadi, yang pertama kali berada di lokasi kejadian itu bukan selalu petugas pemerintah, bukan selalu petugas BNPB ataupun BPBD. Seringkali yang ada di tempat bencana adalah tetangga kita, keluarga kita, saudara kita, teman kita, guru kita, murid kita, santri kita, dan masyarakat di sekitar kita,” paparnya.

Karena itu, kemampuan dasar dalam menghadapi bencana, menurut Iqbal, perlu dimiliki masyarakat secara luas. Melalui jaringan NU, budaya kesiapsiagaan diharapkan dapat tumbuh dan menjangkau masyarakat hingga tingkat komunitas.

Perkuat Jejaring Relawan NU

Training Manajemen Bencana NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah berlangsung pada 18–20 September 2026. Kegiatan ini melibatkan perwakilan PCNU se-Jawa Tengah dari unsur Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU, LAZISNU, Banser Tanggap Bencana (BAGANA), dan Fatayat NU.

Setiap PCNU mengirimkan empat peserta. Pelatihan juga menghadirkan trainer dari Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF).

Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi situasi darurat, membekali keterampilan dasar respons dan penyelamatan, sekaligus memperkuat koordinasi dan kolaborasi antarlembaga.

Sejumlah materi diberikan, antara lain dasar-dasar kesiapsiagaan bencana, perencanaan kedaruratan, perlindungan diri, keselamatan dan evakuasi kebakaran, penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), simulasi evakuasi gempa, serta pertolongan pertama seperti CPR, pengendalian perdarahan, imobilisasi patah tulang, dan pembuatan tandu sederhana.

Pelatihan dilaksanakan dalam tiga batch. Batch pertama berlangsung di Gedung PWNU Jawa Tengah, Semarang, Jumat (18/9/2026). Batch kedua digelar di Kantor PCNU Kota Semarang, Sabtu (19/9/2026), sedangkan batch ketiga berlangsung di Pondok Pesantren Al-Asror, Patemon, Gunungpati, Semarang, Ahad (20/9/2026).

Melalui kegiatan tersebut, PWNU Jawa Tengah berharap penguatan kapasitas relawan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi jejaring kesiapsiagaan yang kuat di tingkat daerah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari pembangunan sistem respons bencana NU yang mampu bergerak sejak tahap kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan, dengan melibatkan kekuatan masyarakat dan jaringan NU di berbagai tingkatan.



ARTIKEL TERKAIT