- 19 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Yogyakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa kemudahan dalam produksi dan penyebaran informasi. Namun, di balik kemampuannya menghasilkan tulisan, video, suara, hingga kutipan keagamaan yang tampak meyakinkan, teknologi ini juga menyimpan risiko penyebaran informasi keliru. Di tengah tantangan tersebut, santri dinilai memiliki peran strategis sebagai penjaga kredibilitas informasi di ruang digital.
Anggota Badan Pengembangan Inovasi Strategis PBNU, Robin Syihab, menegaskan bahwa tradisi keilmuan pesantren, terutama sanad, ketelitian terhadap sumber, dan adab dalam menyampaikan ilmu, menjadi modal penting bagi santri untuk menghadapi perkembangan AI.
“Santri tidak hanya diajarkan apa isi ilmunya, tetapi juga dari mana ilmu itu diperoleh, siapa gurunya, bagaimana konteksnya, dan bagaimana adab menyampaikannya,” ujar Robin saat mengisi pelatihan dan lokakarya media bagi para santri di Aula Gedung MA Nurul Ummah, Ahad (18/10/2026).
Menurut Robin, kemudahan menggunakan AI tidak serta-merta menjamin kebenaran informasi yang dihasilkan. Konten dapat tersusun rapi dan terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu memiliki sumber yang jelas, konteks yang utuh, maupun dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, santri perlu membawa tradisi verifikasi dan tanggung jawab keilmuan pesantren ke ruang digital. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu berperan dalam menjaga etika dan kualitas informasi yang beredar di masyarakat.
Dakwah Digital Bukan Sekadar Mengejar Trafik
Robin juga menyoroti cara kerja algoritma media digital yang kerap memberi ruang lebih besar kepada konten pemicu kemarahan, polarisasi, dan perdebatan karena berpotensi mendatangkan interaksi tinggi.
Dalam situasi tersebut, ia mengingatkan agar aktivitas dakwah tidak terjebak pada upaya mengejar jangkauan dan popularitas semata. Pesan yang disampaikan harus tetap berpijak pada kebenaran, kedamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan persatuan bangsa.
“Ketika algoritma cenderung mengutamakan kemarahan, polarisasi, dan konten yang ekstrem karena dianggap menghasilkan interaksi (trafik), santri perlu membawa koreksi, bahwa dakwah tidak boleh hanya mengejar jangkauan,” tandasnya.
Ia menekankan, penguasaan teknologi bukan berarti santri harus menolak AI. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan secara bijak tanpa menyerahkan nalar kritis, otoritas keilmuan, dan tanggung jawab moral kepada mesin.
Dalam menjawab persoalan keagamaan, misalnya, santri tetap harus memperhatikan sumber rujukan, perbedaan pandangan ulama, konteks sosial, serta dampak jawaban yang disampaikan kepada masyarakat.
“Ada rujukan, ada perbedaan pandangan, ada konteks sosial, dan ada tanggung jawab terhadap dampak jawaban,” paparnya.
Kehati-hatian ini penting karena AI berpotensi menghasilkan kutipan kitab, hadis, maupun pendapat ulama yang tidak akurat. Informasi semacam itu dapat terlihat benar apabila tidak diperiksa kembali melalui sumber yang tepercaya.
“AI juga dapat membuat kutipan kitab, hadis, atau pendapat ulama yang tampak meyakinkan padahal salah,” kata dia.
Literasi AI Santri Harus Mencakup Tiga Aspek
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Robin menilai penguatan kapasitas media bagi santri perlu mencakup tiga aspek utama, yakni keterampilan teknis, literasi kritis, serta etika dan tanggung jawab digital.
Aspek keterampilan teknis meliputi kemampuan menulis, memproduksi video, mendesain konten, melakukan riset digital, mengelola media sosial, hingga memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan kreatif.
Sementara itu, literasi kritis diperlukan agar santri mampu mengenali hoaks, bias algoritma, konten manipulatif, deepfake, sumber palsu, serta informasi keliru yang dihasilkan oleh AI.
Adapun aspek etika dan tanggung jawab mencakup pemahaman mengenai batas penggunaan AI, pentingnya berkonsultasi dengan guru atau ahli, pencantuman sumber, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab atas konten yang dipublikasikan.
Robin mengusulkan metode pembelajaran praktis agar santri dapat menguji langsung keandalan informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
“Saya kira latihan yang menarik adalah meminta santri membandingkan jawaban AI tentang isu fikih dengan rujukan kitab atau penjelasan kiai,” tuturnya.
Melalui latihan tersebut, santri dapat belajar bahwa jawaban yang cepat belum tentu benar. Setiap informasi tetap membutuhkan pemeriksaan, sementara penyampaiannya harus memperhatikan ketepatan rujukan dan adab keilmuan.
Santri Berpeluang Membangun Ekosistem Pengetahuan Tepercaya
Lebih jauh, Robin melihat peluang besar bagi santri untuk mengambil peran dalam berbagai bidang digital, mulai dari jurnalisme, produksi konten, penyuntingan, pengembangan produk digital, penelitian, pengelolaan media pesantren, hingga pengembangan sistem AI yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Namun, menurutnya, potensi santri tidak seharusnya berhenti pada kemampuan memproduksi konten secara cepat dengan bantuan teknologi. Santri juga dapat berkontribusi membangun ekosistem pengetahuan yang memiliki sumber jelas, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Namun peluang paling strategis bukan di kecepatan pembuatan dengan AI. Santri bisa membangun ekosistem pengetahuan yang lebih dapat dipercaya,” imbuhnya.
Upaya itu dapat diwujudkan melalui pengembangan arsip digital pesantren, produksi konten keislaman dengan rujukan yang jelas, layanan pemeriksaan fakta keagamaan, dokumentasi tradisi lokal, serta pengembangan produk AI yang tetap memperhatikan sumber dan otoritas keilmuan.
Robin menegaskan, transformasi digital di lingkungan pesantren harus berjalan seiring dengan penguatan tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi sarana memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga mendukung penyebaran pengetahuan yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Penguasaan teknologi diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga menjaga kualitas pengetahuan, nilai-nilai kepesantrenan, dan kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya.
Pelatihan dan lokakarya media tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut peringatan Hari Santri 2026. Kegiatan ini merupakan hasil sinergi NU Online, Nahdliyin.com, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY, dan Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede, Yogyakarta.