Kamis, 15 Oktober 2026 05:56 WIB

PBNU Pusatkan Apel Hari Santri 2026 di Tebuireng, Gus Ipul Ajak Santri Teladani Perjuangan Ulama


  • Rabu, 14 Oktober 2026 20:08 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyiapkan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 dengan memusatkan apel pada 22 Oktober mendatang di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia sekaligus meneruskan nilai-nilai perjuangan mereka kepada generasi penerus.

Wakil Ketua Umum PBNU H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, apel Hari Santri tersebut direncanakan diikuti jajaran pengurus wilayah dan cabang NU dari berbagai daerah melalui sambungan daring.

Selain apel di Tebuireng, PBNU juga akan menggelar resepsi Hari Santri di Surabaya, tepatnya di kantor cabang NU yang memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926.

“Untuk Hari Santri tanggal 22 Oktober, akan dipusatkan di Tebuireng Jombang, di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang akan ada apel di Hari Santri itu, yang insyaallah akan diikuti oleh seluruh pengurus wilayah dan cabang lewat online. Lalu juga nanti akan ada resepsi Hari Santri di Surabaya, tepatnya di kantor cabang Surabaya yang dulu menjadi bagian dari kantor berdirinya Nahdlatul Ulama tahun 1926,” ujar Gus Ipul kepada NU Online seusai Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Menurut Gus Ipul, peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi ruang untuk kembali memahami sejarah perjuangan para ulama dan kiai yang turut berperan dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Ini adalah ajakan untuk mengingat sejarah, khususnya sejarah para ulama-ulama dalam rangka untuk turut memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.

Ia menilai, perjuangan para ulama dan kiai pada masa lalu mengandung nilai pengorbanan yang perlu terus diwariskan kepada santri masa kini. Semangat tersebut menjadi bagian penting dari makna Hari Santri yang harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Secara umum sama. Secara umum sama, tetapi tentu kita ambil semangatnya, yang utama itu adalah semangatnya. Bagaimana perjuangan para ulama-ulama, kiai-kiai kita dulu, untuk bisa mempertahankan kemerdekaan itu luar biasa, banyak yang dikorbankan,” tuturnya.

Gus Ipul menegaskan, santri dan warga NU memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan warisan perjuangan sekaligus mengamalkan ajaran para ulama. Menurutnya, menjaga nilai-nilai tersebut merupakan prinsip mendasar yang harus tetap menjadi pegangan generasi penerus.

“Nah untuk itu, sebagai santri, sebagai warga NU, kita harus teruskan apa yang sudah menjadi warisan dan juga ajaran para ulama-ulama kita, itu yang paling prinsip,” ungkapnya.

Selain apel dan resepsi, rangkaian peringatan Hari Santri 2026 akan diisi berbagai kegiatan keagamaan dan aktivitas yang melibatkan para santri. Kegiatan tersebut antara lain istighotsah, pembacaan shalawat, perlombaan santri, hingga kirab.

Pelaksanaannya akan melibatkan jajaran Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi masing-masing daerah.

“Berbagai kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh seluruh jajaran Nahdlatul Ulama di semua tingkatan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing,” ujar Gus Ipul.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PBNU berharap Hari Santri menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap bangsa, merawat tradisi keislaman, dan menumbuhkan semangat pengabdian. Bagi generasi santri saat ini, melanjutkan perjuangan ulama tidak hanya berarti mengenang sejarah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai keilmuan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam menjawab tantangan zaman.
 



ARTIKEL TERKAIT