Kamis, 15 Oktober 2026 05:56 WIB

Harlah ke-69 JATMAN Kepri Teguhkan Semangat Khidmat Ulama dan Santri


  • Rabu, 14 Oktober 2026 13:13 WIB

NAHDLIYIN.COM, Tanjungpinang – Idarah Wustha Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Provinsi Kepulauan Riau akan menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 yang dirangkai dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Khadimul Ummah, Kabupaten Bintan, Jumat (16/10/2026).

Peringatan ini tidak sekadar menjadi momentum mengenang perjalanan organisasi, tetapi juga memperkuat semangat pengabdian para pengamal tarekat serta meneguhkan peran ulama dan santri dalam menjaga agama, merawat persaudaraan, dan berkontribusi bagi bangsa.

Rais Idarah Wustha JATMAN Kepri, Dr. KH. Bambang Maryono, M.Pd.I., mengajak seluruh pengurus dan ikhwan tarekat untuk mensyukuri kesempatan berkhidmat melalui JATMAN. Menurutnya, pengabdian kepada organisasi merupakan amanah yang perlu dijalankan dengan memaksimalkan kemampuan yang telah Allah SWT titipkan.

“Kita beruntung dijadikan orang-orang yang mau berkhidmat di JATMAN. Berkhidmat dengan segala kemampuan yang Allah titipkan kepada kita,” ungkapnya, Ahad (11/10/2026).

Semangat khidmat tersebut selaras dengan pesan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, yang menekankan pentingnya persatuan, tolong-menolong, dan memperkuat ikatan persaudaraan. Dalam kerangka ini, khidmat tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau kedudukan dalam organisasi, melainkan kesediaan untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dan kemampuan demi kemaslahatan umat.

Sementara itu, Mudir Idarah Wustha JATMAN Kepri, Dr. H.M. Juramadi Esram, S.H., M.T., M.H., menjelaskan bahwa pemilihan pesantren sebagai lokasi kegiatan merupakan tindak lanjut arahan Rais ‘Aam JATMAN agar aktivitas organisasi semakin dekat dengan lingkungan pendidikan ulama.

“Tahun ini kita menetapkan Ponpes Khadimul Ummah sebagai pusat kegiatan karena mengikuti arahan Rais ‘Aam agar kegiatan JATMAN dilakukan di pondok pesantren. Apalagi bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026. Ini wujud syukur kita atas keberadaan ulama, kiai, dan santri yang menjadi salah satu fondasi kemerdekaan serta memberikan begitu banyak sumbangsih bagi negara,” ujarnya.

Merawat Warisan Tasawuf di Tanah Melayu

Peringatan Harlah ke-69 JATMAN di Kepulauan Riau juga memiliki relevansi dengan sejarah Islam dan tradisi tasawuf di wilayah tersebut. Pada masa Kesultanan Riau-Lingga, khususnya di Pulau Penyengat dan Daik Lingga, tradisi tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah berkembang di lingkungan istana maupun masyarakat.

Warisan keilmuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Islam dan peradaban Melayu di Kepulauan Riau. Karena itu, penguatan tradisi tarekat tidak hanya berkaitan dengan pengamalan spiritual, tetapi juga upaya merawat khazanah keilmuan ulama yang telah membentuk kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

JATMAN sendiri menetapkan 13 Oktober 1957 sebagai hari kelahirannya. Tanggal tersebut merujuk pada pelaksanaan Muktamar Pertama Ahli Thariqah pada 12–13 Oktober 1957 di Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Perempuan Ahlith Thariqah Turut Semarakkan Harlah

Rangkaian peringatan Harlah di Bintan juga akan dimeriahkan penampilan Tim Hadroh Majelis Taklim Safinatul Muslimah, binaan Koordinator WATHONAH Kepri, Nyai Hj. Caskinih.

Keterlibatan kelompok perempuan ahlith thariqah ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pengabdian perempuan dalam kehidupan organisasi. Melalui kegiatan keagamaan, dakwah, dan penguatan jamaah, kaum perempuan turut mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam.

Penguatan peran tersebut membutuhkan ketekunan, pembinaan, serta ruang partisipasi yang berkelanjutan agar semakin banyak perempuan dapat terlibat aktif dalam kegiatan tarekat dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.

Melalui peringatan Harlah ke-69 yang dirangkai dengan Hari Santri Nasional 2026 ini, JATMAN Kepri berharap semangat bertarekat tidak berhenti pada amalan spiritual pribadi. Lebih dari itu, nilai-nilai tarekat diharapkan menjadi landasan pengabdian sosial, penguatan persaudaraan, serta ikhtiar nyata untuk menjaga warisan ulama dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.



ARTIKEL TERKAIT