Kamis, 15 Oktober 2026 05:55 WIB

Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya


  • Rabu, 14 Oktober 2026 13:24 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ulama kharismatik asal Yaman, Habib Umar bin Hafidz, mengunjungi Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (12/10/2026). Kunjungan ini menjadi momentum mempererat silaturahim ulama sekaligus menguatkan harapan agar NU semakin berperan dalam memberikan manfaat bagi umat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam pertemuan tersebut, terdapat tiga hal penting yang mengemuka, yakni penguatan peran dan kemanfaatan NU, doa bagi kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031, serta penguatan silaturahim keilmuan melalui pertukaran karya para ulama.

Kedatangan Habib Umar disambut langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU KH Tajul Mafakhir, KH Afifuddin Dimyathi, KH Zulfa Musthofa, serta Katib Aam PBNU Prof M Nuh.

Hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif, serta Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Nur Hidayat dan H Zaimul Umam Nur Salim.

Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir mengatakan, Habib Umar menyampaikan harapan agar NU terus meningkatkan peran dan fungsinya sehingga semakin luas memberikan manfaat bagi masyarakat.

“NU sekarang mudah-mudahan tambah bermanfaat, baik nasional maupun internasional. Terus berjuang meningkatkan peran dan fungsi daripada jamiyah,” ujar Kiai Afif.

NU Diharapkan Semakin Bermanfaat bagi Umat dan Dunia

Pesan pertama yang mengemuka dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya memperluas kemanfaatan NU. Organisasi yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat ini diharapkan terus berkontribusi, tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga bagi masyarakat luas hingga tingkat internasional.

Katib Aam PBNU Prof M Nuh menyampaikan bahwa Habib Umar turut memberikan doa dan harapan agar NU terus tumbuh serta berkembang setelah menyelesaikan Muktamar ke-35.

“Itulah cita-cita kita semua. Kemanfaatan tidak hanya untuk warga kita, tetapi tentu warga kita plus masyarakat dunia,” kata Prof Nuh.

Menurutnya, kemanfaatan yang lebih luas merupakan cita-cita bersama yang perlu terus diperjuangkan oleh NU dalam menjalankan khidmahnya.

Doa untuk Kepengurusan Baru PBNU 2026–2031

Pertemuan tersebut juga menjadi momentum memperkenalkan hasil Muktamar ke-35 NU kepada Habib Umar, termasuk terbentuknya kepengurusan baru PBNU untuk masa khidmah 2026–2031.

Kiai Afifuddin Muhajir menyampaikan bahwa dirinya memohon doa agar kepengurusan baru tersebut mampu menjalankan amanah organisasi dengan baik.

“Saya sendiri menyampaikan bahwa NU baru saja melaksanakan Muktamar yang ke-35 dan berhasil melahirkan pengurus yang baru. Kemudian mohon didoakan mudah-mudahan amanah, gitu,” tuturnya.

Doa tersebut menjadi bagian penting dalam mengawali masa khidmah kepengurusan baru. Harapannya, para pengurus dapat menjalankan tanggung jawab organisasi sekaligus menjaga keberlanjutan pengabdian NU kepada umat dan bangsa.

Pertukaran Kitab Perkuat Silaturahim Keilmuan

Selain membahas peran NU dan kepengurusan baru, pertemuan ini juga memperlihatkan pentingnya menjaga tradisi silaturahim di antara para ulama.

Prof M Nuh menilai, silaturahim antartokoh dan ulama besar bukan sekadar pertemuan formal. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan batin, saling mendoakan secara langsung, serta menjaga kedekatan antarpemegang tradisi keilmuan Islam.

Salah satu momen yang mewarnai pertemuan tersebut adalah pertukaran karya tulis dan kitab. Dalam kesempatan itu, Habib Umar menerima karya dari KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Dimyathi, dan KH Zulfa Musthofa.

“Tukar-menukar hasil karya itu menjadi simbol sebenarnya dari para ulama itu. Salah satu kebahagiaan atau yang membahagiakan sekali sekaligus membanggakan itu kan bisa memberikan hasil karya berupa karya tulis, buku, kitab, pemikiran-pemikiran kepada para tokoh itu,” jelas Prof Nuh.

Ia menambahkan, pertukaran karya tersebut merupakan bagian dari silaturahim keilmuan yang memiliki arti penting bagi keberlanjutan tradisi intelektual Islam.

“Itu bagian dari silaturahim keilmuan yang nanti bisa memperkuat sanad keilmuannya itu sendiri. Saya kira itu esensinya,” pungkasnya.

Kunjungan Habib Umar bin Hafidz ke PBNU pun menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan doa, harapan, dan tradisi keilmuan. Di tengah dimulainya masa khidmah kepengurusan baru, pesan tentang kemanfaatan, amanah, dan penguatan silaturahim menjadi pengingat penting bagi NU untuk terus menghadirkan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat dunia.



ARTIKEL TERKAIT