- 20 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Bojonegoro – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Matin Djawahir, mengimbau warga Nahdliyin agar tidak mudah terprovokasi narasi negatif di media sosial yang bertujuan mendiskreditkan NU. Ia juga mengajak warga NU menjaga persatuan dan tetap dekat dengan bimbingan para kiai.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Matin dalam Pengajian Umum Peringatan Hari Santri dan Rutinan Majelis Taklim Fatayat-Muslimat NU di halaman Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (18/10/2026).
“Kalau melihat WA, kalau melihat YouTube, ada orang kalau menjelek-jelekkan NU, kalian tutup saja,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Jawa Timur, itu menilai konten provokatif yang menyerang NU bukanlah hal baru. Menurutnya, berbagai upaya menjatuhkan, merundung, dan mengadu domba warga NU telah berulang kali terjadi, tetapi organisasi tersebut tetap bertahan.
“Tujuannya ya agar NU bubar, agar NU ringkih, agar NU tidak lagi dipercaya masyarakat,” tegasnya.
Kiai Matin juga mengingatkan pentingnya menjaga kedekatan batin dengan para kiai dan ulama. Ia berpesan agar Nahdliyin tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mendorong mereka menjauh dari ulama, apalagi sampai merundung atau merendahkan para kiai.
Kenang Perjuangan Santri dalam Kemerdekaan
Dalam kesempatan yang sama, Kiai Matin mengulas peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia menjelaskan, penetapan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tidak lepas dari sejarah perjuangan santri, khususnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi yang dicetuskan para ulama di bawah kepemimpinan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari tersebut menegaskan kewajiban umat Islam untuk melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan.
“Kiai-kiai dipimpin oleh Hadratussyeikh Mbah Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bermusyawarah dengan kiai-kiai membuat keputusan bahwa Belanda dan Inggris penjajah, ini adalah musuh bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia hukumnya wajib perang melawan penjajah,” jelasnya.
Menurut Kiai Matin, semangat Resolusi Jihad turut menggerakkan perlawanan rakyat, termasuk santri dan pemuda dalam pertempuran Surabaya yang kemudian dikenang melalui peringatan Hari Pahlawan pada 10 November.
Ia menegaskan, semangat para pendahulu harus menjadi inspirasi bagi Nahdliyin untuk terus menjaga keimanan, merawat persatuan, serta berkontribusi dalam membela agama dan negara dengan mengikuti bimbingan para ulama.