Senin, 26 Oktober 2026 15:38 WIB

Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj Ingatkan Pengurus Berpegang pada Khittah dan Cita-Cita Pendiri NU


  • Senin, 26 Oktober 2026 14:33 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan jajaran pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 agar tetap berpegang pada khittah Nahdlatul Ulama dan melanjutkan cita-cita para pendiri dalam menjalankan amanah organisasi.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Said seusai menghadiri pelantikan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).

Ia berharap kepengurusan baru mampu membawa NU semakin maju dan berkembang, sekaligus memperluas manfaatnya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Siang ini saya menghadiri pelantikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2026–2031 dengan harapan semoga ke depan semakin berkembang, semakin maju, semakin bermanfaat untuk umat Islam dan pada umumnya bangsa Indonesia,” ujarnya.

Mantan Ketua Umum PBNU dua periode, 2010–2015 dan 2015–2021, tersebut juga berharap kepengurusan baru dapat meneruskan cita-cita Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari melalui berbagai program yang mendorong kemajuan warga NU dan pesantren.

“Bisa melanjutkan cita-cita Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, menunjang program-programnya demi kemajuan warga NU dan pesantren,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai nasihat bagi para pengurus yang baru dilantik, Kiai Said menekankan pentingnya doa serta komitmen untuk menjaga semangat perjuangan para muassis NU.

“Nasihat enggak ada, tapi yang penting doa. Semoga semuanya tidak pernah lupa dengan khittah, cita-cita, semangat Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab, Kiai Bisri Syansuri, dan kiai-kiai yang lain,” ungkapnya.

Rais Aam PBNU Tekankan Persatuan dan Dakwah Merangkul

Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai dalam Qanun Asasi sebagai landasan dalam menjalankan amanah organisasi. Nilai-nilai tersebut antara lain welas asih, persatuan, dan kasih sayang.

Kiai Miftach mengingatkan seluruh pengurus agar mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan organisasi serta kemaslahatan umat. Terlebih, NU kini memasuki abad kedua perjalanan pengabdiannya.

“Singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi. Apalagi ini mengawali abad kedua kepengurusan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Menurut Kiai Miftach, warga NU memiliki latar belakang ekonomi, politik, budaya, dan keilmuan yang beragam. Keragaman tersebut perlu disikapi dengan pendekatan dakwah yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa tugas pengurus NU bukan sekadar menjalankan roda organisasi, melainkan juga membimbing masyarakat agar terus bergerak menuju kebaikan.

“Bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik itu kewajiban kita. Bagaimana cara kita berdakwah, merangkul tidak memukul karena itu contoh dari Rasulullah SAW,” tuturnya.

Pesan kedua kiai tersebut menjadi pengingat bagi jajaran pengurus PBNU bahwa amanah organisasi perlu dijalankan dengan berpegang pada khittah, meneruskan perjuangan para pendiri, serta mengedepankan persatuan dan kemaslahatan umat.

Dengan semangat tersebut, NU diharapkan terus hadir sebagai penuntun umat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa Indonesia.



ARTIKEL TERKAIT