Senin, 26 Oktober 2026 15:38 WIB

Dekati Gen Z, NU Diminta Perkuat Pesantren dan Hadirkan Dakwah Digital yang Menyejukkan


  • Senin, 26 Oktober 2026 14:41 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) ditantang untuk memperkuat kedekatan dengan Generasi Z (Gen Z) di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan pola kehidupan generasi muda. Penguatan pesantren, pendampingan spiritual, serta dakwah yang relevan di media sosial dinilai menjadi langkah penting agar generasi muda Nahdliyin tetap terhubung dengan NU.

Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Mohammad Shofiyullah Cokro Hadi Kusumo menegaskan, NU perlu kembali memperkuat basis akar rumput, terutama pesantren, sekaligus menghidupkan kedekatan dengan jamaah.

Menurutnya, derasnya informasi yang tidak benar di ruang digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Karena itu, NU perlu hadir tidak hanya sebagai organisasi, tetapi juga sebagai sumber bimbingan keagamaan yang dapat dipercaya.

“Bagi generasi muda Nahdliyin, kita berharap Nahdlatul Ulama kembali menguatkan akar rumput kita di pesantren. Apalagi, Gen Z saat ini sering membaca berita-berita yang tidak benar,” ujarnya kepada NU Online seusai pelantikan kepengurusan PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Shofiyullah mengajak seluruh elemen NU menyatukan langkah untuk memperkuat organisasi sekaligus membangun kembali hubungan yang lebih dekat dengan jamaah.

“Ayo kita punya ikhtiar yang sama, kita punya keyakinan yang sama bahwa NU ini memang bisa kembali ke jamaah kita, tidak hanya menguatkan jamiyah, tetapi juga menghidupkan jamaah kita,” sambungnya.

Bukan Sekadar Warisan Keluarga

Shofiyullah menilai, tantangan NU saat ini adalah memastikan generasi muda memiliki kesadaran dan keterikatan terhadap nilai-nilai ke-NU-an, bukan sekadar mewarisi identitas keluarga.

Latar belakang orang tua atau kakek-nenek sebagai warga NU tidak serta-merta membuat generasi berikutnya merasa perlu terlibat dalam organisasi. NU, menurutnya, perlu menghadirkan pengalaman keagamaan yang bermakna bagi kehidupan anak muda.

“Pekerjaan rumahnya adalah banyak sekarang yang berpikir, ‘Bapak-ibuku NU, kakek-nenekku NU, tapi saya enggak ikutan.’ NU harus mampu menjawab bahwa jamiyah Nahdlatul Ulama bukan hanya soal ikut-ikutan, tetapi juga memiliki ruhiyah yang diperlukan generasi muda, mulai dari Gen Z hingga Gen Alpha dan Gen Beta ke depannya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, NU tidak cukup dipahami sebagai wadah berorganisasi. Lebih dari itu, NU perlu menjadi ruang pendampingan spiritual yang membantu generasi muda menemukan pegangan hidup di tengah perubahan zaman.

“Di NU ini kita bukan hanya berorganisasi. Ada pendampingan, ada thariqah, ada ruhiah kita agar hati tidak kering. Itulah tantangan sekaligus jawaban yang dinantikan oleh generasi muda,” ujarnya.

Dakwah Digital Harus Edukatif dan Menyejukkan

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Whasfi Velasufah menilai, pendekatan dakwah NU perlu menyesuaikan diri dengan kebiasaan generasi muda yang banyak menghabiskan waktu di media sosial.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi ruang strategis untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an melalui konten yang menarik, edukatif, serta sesuai dengan karakter Gen Z.

“Kalau kita melihat Gen Z hari ini, mereka lebih banyak berada di media sosial. Karena itu, IPPNU dan PBNU harus bisa menyesuaikan diri dengan Gen Z. Caranya dengan menghadirkan konten-konten dakwah yang sesuai dengan karakter mereka,” katanya.

Vela menekankan bahwa pendekatan yang menyejukkan dan mendidik lebih tepat untuk membangun kedekatan dengan generasi muda daripada dakwah yang keras.

“Gen Z hari ini tidak bisa didekati dengan cara yang keras. Pendekatan yang lebih edukatif justru banyak diminati oleh Gen Z,” ungkapnya.

Selain persoalan keagamaan, Vela mengingatkan bahwa generasi muda juga memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan krisis iklim. Hal ini perlu menjadi perhatian NU dalam merancang program yang relevan dengan persoalan yang mereka hadapi.

“Gen Z hari ini sadar akan banyak hal, selain isu agama, juga isu lingkungan dan lainnya. Kita bisa melihat saat krisis iklim, banyak Gen Z yang turut berperan,” jelasnya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa mendekatkan NU kepada generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran di ruang digital. Penguatan pesantren, pendampingan spiritual, dakwah yang menyejukkan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan perlu berjalan beriringan.

Dengan pendekatan yang lebih relevan dan terbuka, NU diharapkan tidak hanya menjaga keterikatan generasi muda dengan tradisi Nahdliyin, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh, berkontribusi, dan menjawab tantangan zaman.
 



ARTIKEL TERKAIT