- 26 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Gresik – Kader perempuan Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar penggerak organisasi. Mereka juga hadir di tengah masyarakat, menguatkan perlindungan sosial, mendorong ekonomi warga, hingga ikut membangun kemandirian desa.
Peran itu terus diperkuat Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Gresik melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan perangkat daerah. Komitmen tersebut mengemuka dalam puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Sabtu (24/10/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kaderisasi sekaligus memperluas kontribusi Fatayat NU agar manfaatnya makin terasa di tengah masyarakat.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengapresiasi kiprah Fatayat NU yang dinilai konsisten terlibat dalam pelayanan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa pengabdian sebagai kader NU harus berangkat dari niat tulus dan semangat membantu sesama.
“Semoga niat kita menjadi kader NU, baik Fatayat, Ansor, Muslimat, IPNU, IPPNU, dan lainnya, senantiasa tulus dan ikhlas dalam membantu sesama,” ujar Yani.
Menurutnya, dukungan pemerintah desa menjadi salah satu faktor penting agar kader Fatayat NU bisa bergerak hingga tingkat ranting. Ketika organisasi diberi ruang untuk berkarya dan bersinergi dengan pemerintah desa, program yang dijalankan berpeluang menjangkau lebih banyak warga.
Kader Fatayat NU Hadir dalam Perlindungan Sosial
Salah satu kontribusi yang mendapat perhatian ialah keterlibatan kader Fatayat NU dalam mendukung perlindungan sosial di Kabupaten Gresik.
Yani menyampaikan apresiasi kepada PC Fatayat NU Gresik, pimpinan anak cabang (PAC), serta para kader yang terlibat sebagai relawan perlindungan sosial. Menurutnya, keterlibatan tersebut merupakan bentuk pengabdian sukarela yang memiliki arti bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada PC Fatayat NU Gresik, PAC se-Kabupaten Gresik, dan seluruh keluarga besar Fatayat atas gerak cepatnya dalam mendukung perlindungan sosial,” tuturnya.
Ia juga menilai dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan Fatayat NU menjadi modal penting untuk memperluas gerakan sosial. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, kader perempuan dapat mengambil peran lebih besar dalam menjawab kebutuhan warga.
Dari Perlindungan Sosial hingga Pemberdayaan Ekonomi
Tak berhenti pada kegiatan sosial, Fatayat NU Gresik juga didorong berkontribusi dalam penguatan ekonomi masyarakat, termasuk sektor pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, diserahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian kepada Fatayat NU Gresik. Bantuan itu selanjutnya dikelola Desa Mojopuro, Kecamatan Balongpanggang.
Yani berpesan agar sarana pertanian tersebut dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Bantuan alsintan ini merupakan keputusan yang telah diambil melalui Menteri Pertanian. Tolong dijaga dan dirawat, semoga bisa memberikan manfaat,” ujarnya.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat terhubung dengan sektor produktif. Kader perempuan tidak hanya berperan dalam kegiatan sosial, tetapi juga berpeluang ikut menggerakkan ekonomi desa melalui kerja sama lintas sektor.
Kemandirian Jadi Prinsip Gerakan NU
Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik KH Mulyadi menegaskan bahwa kemandirian merupakan salah satu prinsip penting dalam Nahdlatul Ulama. Prinsip tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan dalam kehidupan organisasi sekaligus pengabdian kepada masyarakat.
“Di NU ini ada beberapa prinsip. Prinsip pertama adalah kemandirian,” kata Mulyadi.
Ia menjelaskan bahwa kemandirian NU mencakup empat aspek, yakni kemandirian akidah, jamaah, ekonomi, dan kebangsaan. Keempatnya menjadi landasan untuk memperkuat kapasitas organisasi sekaligus menjaga kontribusi NU bagi masyarakat dan negara.
Semangat kemandirian tersebut juga diwujudkan melalui pemberian penghargaan Desa Sahabat PC Fatayat NU Gresik. Program ini menjadi bentuk apresiasi bagi desa yang mendukung penguatan kader dan kelembagaan Fatayat NU hingga tingkat ranting.
Penilaian dilakukan berdasarkan lima pilar, yaitu kaderisasi, penguatan kelembagaan, advokasi, data dan informasi, serta kajian dan digitalisasi pengetahuan.
Enam pimpinan ranting menerima penghargaan dalam ajang tersebut. Pimpinan Ranting Banyutengah meraih juara pertama, disusul Pimpinan Ranting Bungah sebagai juara kedua dan Pimpinan Ranting Tanggulangin sebagai juara ketiga.
Sementara itu, Pimpinan Ranting Lowayu meraih harapan pertama, Pimpinan Ranting Cerme Kidul memperoleh harapan kedua, dan Pimpinan Ranting Peganden meraih harapan ketiga.
Perluas Kolaborasi, Perkuat Dampak
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan deklarasi Ruang Bersama Indonesia oleh PC Fatayat NU Gresik bersama Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik.
Kolaborasi lintas sektor diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pertanian Kabupaten Gresik.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas sinergi dalam pemberdayaan perempuan, pengembangan kapasitas kader, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, Fatayat NU Gresik menegaskan bahwa menjaga tradisi harus berjalan beriringan dengan menghadirkan solusi atas persoalan hari ini. Dari perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan organisasi di tingkat desa, kader perempuan memiliki ruang untuk ikut membangun masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya.