Selasa, 27 Oktober 2026 20:36 WIB

Katib PBNU Prof Idrus Alhamid: Kaderisasi Ulama Harus Berbasis Kearifan Lokal


  • Senin, 26 Oktober 2026 18:40 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Penguatan kaderisasi ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia Timur perlu dilakukan dengan pendekatan yang adaptif terhadap budaya dan kearifan lokal. Pendidikan dan pengaderan tidak bisa diseragamkan, tetapi harus disesuaikan dengan karakter serta dinamika masyarakat di setiap daerah.

Hal itu ditegaskan Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Idrus Alhamid usai pelantikan kepengurusan PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, tradisi keagamaan Nahdliyin di Indonesia Timur tumbuh dan berkembang bersama kebudayaan masyarakat setempat. Karena itu, pengembangan kaderisasi NU perlu berangkat dari tradisi yang telah hidup dan mengakar di tengah warga.

“Dalam perspektif Indonesia, kultur Nahdliyin ini di wilayah timur betul-betul melekat pada peradaban orang Indonesia bagian timur. Mereka memandang Aswaja itu ada tahlilan, ada Barzanji, ya itu NU sudah,” ujarnya.

Sebagai perwakilan Indonesia Timur di PBNU, Prof Idrus mendorong agar orientasi pendidikan dan kaderisasi ulama lebih memperhatikan kebutuhan masing-masing wilayah. Menurutnya, standar pengaderan yang diterapkan di satu daerah belum tentu cocok jika diterapkan secara sama di daerah lain.

Ia mencontohkan kemampuan membaca kitab kuning yang dapat menjadi salah satu standar dalam pengaderan ulama. Namun, penerapannya di Indonesia Timur perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat, tanpa mengabaikan substansi keilmuan dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Orientasi bidang pendidikan itu harus basisnya kearifan lokal. Sehingga saya mengusulkan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal itu perlu dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama,” katanya.

Tradisi Lokal Jadi Jembatan Dakwah NU

Prof Idrus menilai pendidikan yang berbasis kearifan lokal bukan berarti meninggalkan tradisi keilmuan NU. Sebaliknya, pendekatan tersebut menjadi upaya agar pendidikan dan dakwah lebih dekat dengan kehidupan masyarakat serta mampu menjawab kebutuhan mereka.

Ia menekankan bahwa kurikulum pendidikan perlu merepresentasikan dinamika sosial dan kebudayaan setempat. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya berorientasi pada standar tertentu, tetapi juga menghargai manusia dan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh.

Menurutnya, masyarakat Indonesia Timur memiliki tradisi kebersamaan yang kuat. Salah satu contohnya terlihat dalam kebiasaan makan bersama pada pesta adat, yang mencerminkan keterbukaan dan eratnya ikatan sosial.

Tradisi semacam itu memiliki kedekatan dengan praktik keagamaan warga NU, termasuk tahlilan yang menjadi ruang berkumpul, berdoa, dan mempererat silaturahmi.

“Sehingga kalau NU itu masuk ke bagian timur, dia tidak mengalami apa yang disebut culture shock, kepanikan kebudayaan,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, dapat menjadi modal bagi NU untuk memperluas pengembangan kaderisasi dan program organisasi di Indonesia Timur. Kearifan lokal perlu ditempatkan sebagai kekuatan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, bukan sebagai penghalang bagi pengembangan pendidikan dan dakwah.

Potensi Indonesia Timur untuk Ekonomi Umat

Selain kaderisasi ulama, Prof Idrus menyoroti pentingnya perhatian strategis terhadap pengembangan organisasi dan ekonomi umat di Indonesia Timur.

Wilayah tersebut memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik di laut maupun di darat. Potensi ini, menurutnya, perlu dikelola dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

“Sumber daya alam baik laut dan darat itu melimpah, bagaimana NU melakukan pengembangan ekonomi umat itu bisa menggerakkan warga di Indonesia Timur,” ujarnya.

Ia berharap badan pengembangan ekonomi umat NU dapat mengambil peran dalam menggerakkan potensi tersebut. Upaya pengembangan ekonomi perlu dirancang dengan wawasan Nusantara, sehingga program organisasi tidak hanya berpusat di wilayah tertentu, tetapi menjangkau masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.

Bagi Prof Idrus, penguatan kaderisasi, penghormatan terhadap kearifan lokal, dan pemberdayaan ekonomi merupakan bagian dari upaya menghadirkan NU yang semakin dekat dengan kebutuhan warga.

Ia pun menegaskan bahwa persaudaraan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti sebagai slogan.

“Persaudaraan itu bukan ucapan. Persaudaraan itu tindakan,” tegasnya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan NU di Indonesia Timur membutuhkan pendekatan yang memahami budaya setempat, pendidikan yang relevan, serta program pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, semangat persaudaraan dan khidmah NU dapat tumbuh melalui kerja nyata di seluruh wilayah Nusantara.
 



ARTIKEL TERKAIT