- 27 Oktober 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) terus memperkuat perannya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Mulai dari kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelestarian lingkungan, hingga penguatan ekonomi warga, seluruhnya menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang tangguh dan sejahtera.
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Ada tiga aspek yang perlu berjalan beriringan, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan, sebagaimana tercermin dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Hal tersebut disampaikan Gus Rozin dalam Rapat Koordinasi PBNU di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, salah satu fokus PBNU ialah memperkuat perlindungan dan pelayanan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Langkah ini mencakup mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pemulihan ekosistem lingkungan hidup.
“Outcome-nya adalah masyarakat tangguh yang tangguh bencana dan berketahanan iklim, artinya adalah berketahanan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Bagi Gus Rozin, masyarakat tangguh bukan sekadar masyarakat yang mampu bertahan ketika bencana datang. Lebih dari itu, masyarakat perlu memiliki kesiapan, kapasitas, dan dukungan untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terus terjadi.
Ekonomi Warga Harus Naik Kelas
Selain ketahanan bencana dan pelestarian lingkungan, PBNU juga mendorong penguatan kewirausahaan agar warga NU semakin mandiri secara ekonomi.
Gus Rozin menekankan bahwa pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pelatihan. Warga juga perlu dibekali keterampilan yang relevan serta akses terhadap lembaga keuangan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Pembinaan kewirausahaan warga ini adalah bagaimana warga kita berdaya. Sektor riil ini memperbanyak pelaku usaha UMKM yang mandiri. Dibekali dengan skill, akses terhadap lembaga keuangan, dan seterusnya,” katanya.
Artinya, warga tidak hanya didorong untuk memulai usaha, tetapi juga perlu mendapat dukungan agar usahanya berkembang, memiliki daya saing, dan mampu menopang kesejahteraan keluarga.
Petani, Nelayan, dan UMKM Perlu Ekosistem yang Berpihak
Gus Rozin juga menyoroti pentingnya advokasi bagi tiga kelompok yang menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi warga NU, yakni petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, berbagai sektor tersebut masih menghadapi tantangan dalam membangun ekosistem usaha yang mendukung keberlangsungan dan perkembangan ekonomi masyarakat.
“Warga NU itu mayoritas adalah kalau tidak petani, ya pelaku UMKM atau nelayan. Tiga sektor ini ekosistemnya tidak berpihak semuanya,” ungkapnya.
Karena itu, NU dinilai perlu mengambil peran lebih jauh, tidak hanya melalui pemberdayaan langsung kepada warga, tetapi juga dengan menyampaikan masukan kepada pemerintah agar kebijakan ekonomi semakin memperhatikan kebutuhan kelompok-kelompok tersebut.
“Menjadi kewajiban Nahdlatul Ulama bagaimana kita bisa memberikan masukan kepada pemerintah biar tercipta satu ekosistem ekonomi yang berpihak pada tiga klaster ini,” tuturnya.
Dorongan tersebut menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan perlu dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketahanan menghadapi bencana, lingkungan yang terjaga, dan ekonomi yang semakin mandiri harus berjalan beriringan agar kesejahteraan warga tidak hanya menjadi target, tetapi juga manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.