- 02 November 2026
NAHDLIYIN.COM, Sidoarjo – Tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di tengah masyarakat perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang. Salah satu ikhtiarnya dilakukan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Sidoarjo melalui gerakan literasi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Lakpesdam PCNU Sidoarjo menggelar Upskilling dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Living Aswaja An-Nahdliyah di Ballroom PCNU Sidoarjo, Ahad (1/11/2026) pagi.
Kegiatan ini diikuti puluhan pengurus Lakpesdam Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sidoarjo. Bimtek tersebut menjadi langkah awal menghimpun penulis dan peneliti untuk menggali sekaligus mendokumentasikan tradisi keagamaan khas Aswaja An-Nahdliyah di berbagai wilayah Sidoarjo.
Ketua Lakpesdam PCNU Sidoarjo, Prof. Syamsul Huda, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan karya bersama menjelang berakhirnya masa khidmat kepengurusan PCNU Sidoarjo pada akhir tahun ini.
Menurutnya, Bimtek tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan menulis, tetapi juga menjadi awal pembentukan tim yang akan menelusuri dan mencatat tradisi Aswaja di setiap kecamatan hingga desa.
“Kami ingin mempersembahkan sebuah karya di akhir periode kepengurusan ini. Bimtek ini menjadi titik awal untuk mengumpulkan tim yang akan menuliskan berbagai tradisi khas Aswaja di setiap kecamatan hingga desa,” ujarnya.
Ia berharap dokumentasi Living Aswaja An-Nahdliyah tersebut dapat menjadi buah tangan bagi kepengurusan PCNU Sidoarjo dalam momentum Konferensi Cabang (Konfercab) mendatang. Lebih dari itu, karya tersebut diharapkan menjadi warisan intelektual untuk menjaga keberlanjutan tradisi NU.
“Ini akan menjadi karya kita bersama, bagaimana menghidupkan tradisi melalui literasi,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Katib PCNU Sidoarjo, H. Arisy Karomi, mengapresiasi langkah Lakpesdam dalam memperkuat tradisi literasi dan pengembangan pemikiran di lingkungan NU.
Ia berharap dokumentasi tradisi keagamaan dan sosial masyarakat tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa merawat tradisi tidak cukup hanya dengan menjalankannya, tetapi juga perlu mencatat, mengkaji, dan mewariskan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.