Jum'at, 03 April 2026 03:30 WIB

Keistimewaan Gus Dur saat Dilengserkan, Gus Baha Ungkap dari Sudut Pandang Fiqih


  • Rabu, 18 Desember 2024 19:46 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Bagi umat Islam, khususnya Nahdliyin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukan hanya seorang ulama biasa. Ia dikenal sebagai sosok wali, meneruskan jejak leluhurnya, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Dur melampaui banyak hal yang belum dicapai orang lain hingga kini. Sebagai waliyullah, ia diyakini memiliki karomah yang luar biasa. Selain itu, ia adalah ulama yang alim, memimpin PBNU selama tiga periode berturut-turut, dan menutup masa baktinya sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Gus Dur adalah figur multidimensi seorang ulama, cendekiawan, seniman, budayawan, aktivis, sekaligus politikus. Pembahasan tentangnya selalu menarik karena keberagaman perannya.

Hingga hari ini, Gus Dur tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahkan, jumlah pengagumnya terus bertambah sejak wafatnya. Salah satu yang mengidolakan Gus Dur adalah KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), seorang Rais Syuriyah PBNU. Sesuai bidang keilmuannya, Gus Baha mengagumi Gus Dur dari perspektif fiqih, yang menurutnya mencerminkan keistimewaan Gus Dur sebagai ulama yang mendalam dan visioner.

Dalam ceramahnya, Gus Baha mengaku bahwa dirinya merupakan salah satu pengagum berat Gus Dur, terutama dalam aspek yang berkaitan dengan fikih. Sebagai seorang ulama yang mendalami ilmu fikih secara mendalam, Gus Baha melihat Gus Dur sebagai sosok yang memiliki pemahaman fikih yang mendalam dan implementasi yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya akan mengagumi Gus Dur dari segi fikih," katanya saat mengisi ceramah agama di Haul ke-10 Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur Sabtu malam (21/12), sebagaimana ditulis di NU Online, dikutip Rabu (18/12/2024).

Menurut Gus Baha, Gus Dur bukan hanya seorang ulama dan pemimpin bangsa, tetapi juga seorang figur yang mampu menerjemahkan prinsip-prinsip fikih secara kontekstual tanpa meninggalkan esensinya. Gus Dur dikenal piawai dalam menerapkan pendekatan fikih yang mengedepankan kemaslahatan, toleransi, dan keadilan sosial.

Di antara masalah fikih yang dikagumi oleh Gus Baha saat Gus Dur dilengserkan dari presiden yang dikenang para ulama Indonesia dan sejumlah tokoh dunia. Saat itu, Gus Dur berhasil mengelola konflik tersebut sehingga tidak terjadi pertempuhan darah.   

Bagi Gus Baha ini satu prestasi yang diyakini menjadi amal baiknya. Menurut pandangan Gus Baha, sikap Gus Dur ini searah dengan kaidah fikih yaitu dar'ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih. Islam sejak dulu sebisa mungkin menekankan agar tidak ada darah yang menetes, apalagi demi kekuasaan.

Gus Baha menyoroti bahwa cara Gus Dur memandang berbagai persoalan bangsa selalu dilandasi dengan pemahaman fikih yang luas dan mendalam. Gus Dur mampu membaca teks agama dan mengaplikasikannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat di zamannya.

“Gus Dur itu luar biasa. Dia paham benar bahwa fikih itu tidak kaku. Dia bisa menyikapi masalah-masalah kompleks dengan cara yang mudah diterima, tetapi tetap sesuai dengan kaidah syariat,” tutur Gus Baha.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, Gus Dur seringkali menggunakan pendekatan fikih untuk menciptakan harmoni di tengah masyarakat yang beragam. Pendekatan ini, menurut Gus Baha, menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus, terutama para santri dan ulama muda.

Kekaguman Gus Baha terhadap Gus Dur tidak hanya berhenti pada aspek fikih. Ia juga mengapresiasi pemikiran Gus Dur yang selalu menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Gus Dur, menurutnya, adalah ulama yang mampu menyeimbangkan antara teks agama dan realitas sosial tanpa kehilangan substansi agama itu sendiri.

“Banyak pelajaran dari Gus Dur yang bisa kita ambil, khususnya dalam memahami agama sebagai rahmat bagi semua umat manusia,” tambah Gus Baha.



ARTIKEL TERKAIT