- 21 Mei 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, Rembang, KH Achmad Rosikh Roghibi menegaskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama harus menjadi momentum penting untuk mengembalikan PBNU kepada Khittoh 1926 sebagai jam’iyah perjuangan ulama dan umat.
Menurut Gus Rosikh, NU sejak awal berdiri memiliki fondasi perjuangan yang kuat dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, mempertahankan kedaulatan bangsa, serta membela kaum tertindas, termasuk perjuangan rakyat Palestina.
Karena itu, ia mengingatkan agar PBNU tidak kehilangan arah akibat berbagai kepentingan geopolitik internasional yang dinilai berpotensi menyeret organisasi menjauh dari ruh perjuangan Nahdliyin.
“Muktamar ke-35 harus menjadi momentum muhasabah besar. PBNU jangan sampai hanya menjadi stempel agenda global yang bertentangan dengan cita-cita para muassis NU,” tegas Gus Rosikh.
Ia menilai, organisasi sebesar NU harus tetap berdiri independen sebagai kekuatan moral umat dan tidak larut dalam kepentingan elit maupun percaturan geopolitik global.
“NU lahir untuk menjaga agama, bangsa, dan umat, bukan menjadi kendaraan kepentingan elit global,” ujarnya.
Gus Rosikh juga menyoroti pentingnya mengembalikan supremasi Syuriyah sebagai otoritas tertinggi dalam menjaga arah perjuangan organisasi. Menurutnya, penguatan peran ulama menjadi hal mendesak agar NU tidak mudah diarahkan oleh kepentingan politik sesaat.
Dalam refleksinya, ia mengingatkan bahwa kekuatan utama NU selama hampir satu abad terletak pada kedekatan dengan rakyat, pesantren, ulama kampung, serta tradisi keilmuan yang mandiri.
“Kalau NU kehilangan independensinya, maka yang hilang bukan hanya marwah organisasi, tetapi juga kepercayaan umat,” katanya.
Ia juga mendorong pembenahan kaderisasi di internal organisasi agar tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah serta tidak terpengaruh ideologi yang dinilai menyimpang dari garis perjuangan NU.
Menurut Gus Rosikh, Muktamar ke-35 NU seharusnya menjadi forum konsolidasi moral dan ideologis untuk memperkuat persatuan warga Nahdliyin sekaligus meneguhkan posisi NU sebagai benteng keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
“NU harus kembali menjadi jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berkhidmat untuk umat, bukan sibuk menjadi bagian dari percaturan agenda global yang menjauh dari amanah para pendiri,” pungkasnya.