Jum'at, 02 Januari 2026 21:49 WIB

Kiai Asep: Risywah di Muktamar NU Bukan Tradisi, tapi Pelanggaran Akidah


  • Jum'at, 02 Januari 2026 13:51 WIB

NAHDLIYIN.COM, Surabaya – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan bahwa praktik risywah atau suap dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar apalagi ditoleransi. Menurutnya, anggapan bahwa risywah adalah “tradisi” justru berbahaya karena bertentangan langsung dengan ajaran Islam.

Pernyataan tegas itu disampaikan putra pendiri NU KH Abdul Chalim tersebut di hadapan para kiai saat shalat malam dan doa bersama rutin yang digelar di kediamannya, kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Siwalankerto Utara, Surabaya, Senin (1/1/2026) malam.

“Kita tidak boleh menganggap risywah itu biasa. Kalau larangan Allah dianggap sepele dan tidak perlu ditaati, itu masalah serius dalam keimanan,” tegas Kiai Asep.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Asep juga menggelar doa bersama dan manasik umrah sebagai badal umrah bagi para korban runtuhnya mushalla Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu, risywah merupakan perbuatan yang secara jelas diharamkan dalam Islam. Karena itu, ketika praktik tersebut dianggap lumrah, maka sesungguhnya telah terjadi pengabaian terhadap perintah dan larangan Allah SWT.

“Kalau sampai ada anggapan tidak perlu mematuhi larangan Allah, itu berbahaya bagi akidah. Jangan sampai kita meremehkan dosa besar,” ujarnya.

Kiai Asep juga menyinggung dugaan praktik risywah dalam Muktamar NU di Lampung tahun 2021. Ia mengaku memperoleh informasi langsung dari sejumlah ketua PCNU saat melakukan perjalanan ke Aceh menjelang pelaksanaan muktamar tersebut.

Temuan itu, lanjutnya, pernah disampaikan dalam pertemuan para kiai di Pondok Pesantren Asshodiqiyah, Semarang. Dalam forum tersebut hadir sejumlah tokoh NU, di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Miftachul Akhyar, KH Dimyati Rois, Gus Yahya Cholil Staquf, dan KH As’ad Said Ali.

“Saya sampaikan apa adanya. Tapi dalam forum itu tidak ada respons,” ungkapnya.

Usai pertemuan, Kiai Asep mengaku sempat ditegur secara personal oleh KH Dimyati Rois agar tidak menyampaikan hal tersebut secara terbuka.

Melalui forum doa bersama itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) tersebut mengajak para kiai sepuh dan tokoh NU untuk bersama-sama mengingatkan pengurus NU di semua tingkatan agar tidak menormalisasi risywah.

Menurutnya, risywah tidak hanya merusak tatanan organisasi, tetapi juga menjadi sebab munculnya berbagai bencana, baik bencana moral maupun bencana sosial.

“Kalau risywah dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada NU, tapi juga pada kehidupan bangsa,” ujarnya.

Acara tersebut dihadiri sejumlah kiai, guru besar, dan tokoh publik, antara lain Prof Dr KH Imam Ghazali Said, Prof Dr Usep Abdul Matin, Prof Dr Zainuddin Maliki, Dr Achmad Rubaie, serta anggota DPRD Jawa Timur H Sholeh.

Menariknya, dalam acara itu juga hadir empat pelawak senior Tessy, Kirun, Kadir, dan Memet yang sowan kepada Kiai Asep. Mereka turut berbagi kisah perjalanan hidup yang penuh liku dengan gaya khas jenaka, sehingga suasana doa yang khidmat sesekali diwarnai tawa para kiai dan tamu undangan.

Meski demikian, pesan utama malam itu tetap menguat: risywah bukan budaya, melainkan penyimpangan yang harus diluruskan bersama demi menjaga marwah NU dan nilai-nilai Islam.



ARTIKEL TERKAIT