- 02 Januari 2026
NAHDLIYIN.COM, Sidoarjo – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), M. Irkham Thamrin, menegaskan pentingnya menjaga dan memperkuat empat nilai utama kaderisasi PMII sebagai bekal menghadapi tantangan zaman. Penegasan tersebut disampaikan dalam Pelantikan dan Konsolidasi Akbar PC PMII Sidoarjo di Ballroom PCNU Sidoarjo, Ahad (28/12/2025).
Irkham menyebut, pertama, PMII harus tetap hidup sebagai harokah (gerakan) dalam kondisi apa pun. Menurutnya, kader PMII dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk dalam memanfaatkan ruang digital tanpa meninggalkan kerja-kerja sosial.
“Kita tetap harus hadir di masyarakat, tapi algoritma media sosial juga tidak boleh ditinggalkan. Hari ini, yang cepat mengalahkan yang lambat, bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil,” ujarnya.
Kedua, ia menekankan penguatan intelektualitas dan akademik sebagai fondasi utama pergerakan. PMII yang lahir dari kampus, kata Irkham, tidak boleh tercerabut dari tradisi belajar dan kesungguhan menuntaskan pendidikan.
“Kalau kader belum selesai pendidikannya, akan sulit mendistribusikan kader ke ruang-ruang strategis,” tegasnya, seraya mengapresiasi Ketua PC PMII Sidoarjo yang telah menyelesaikan pendidikan pascasarjana sebagai teladan bagi kader lainnya.
Ketiga, Irkham menyoroti tanggung jawab dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Ia menyebut Jawa Timur sebagai basis Aswaja memiliki peran strategis dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai tersebut, khususnya di lingkungan kampus.
“Tugas kader adalah memastikan Aswaja tetap hidup, baik di kampus yang sudah ada PMII-nya maupun yang belum,” katanya.
Keempat, komitmen kebangsaan menjadi pilar yang tak terpisahkan dari jati diri PMII. Irkham menegaskan bahwa kader PMII hari ini adalah calon pemimpin masa depan yang harus disiapkan secara utuh, secara intelektual, keislaman, dan nasionalisme.
“Kita punya tanggung jawab historis mengawal cita-cita kemerdekaan. Semua nilai itu harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan bahwa pergerakan tidak boleh instan, melainkan dijalani dengan istiqamah, keuletan, dan kesabaran.
“Masa depan memang tidak bisa diprediksi, tapi bisa diciptakan. Salah satunya melalui pergerakan. Mari bergerak mengukir sejarah, atau tertinggal oleh zaman,” pungkasnya.