Rabu, 04 Februari 2026 08:05 WIB

Gus Yahya: NU Tak Bisa Lagi Mengisolasi Diri dari Realitas Masyarakat Global


  • Kamis, 29 Januari 2026 19:25 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tidak lagi memiliki ruang untuk mengisolasi diri dari dinamika masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Kesadaran ini, menurutnya, harus menjadi refleksi mendasar dalam menyusun peta jalan NU untuk 25 tahun ke depan.

Hal tersebut disampaikan Gus Yahya dalam agenda Halaqah Roadmap 25 Tahun NU (2027–2052) dan Konsolidasi Organisasi yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Gus Yahya, keterhubungan NU dengan realitas sosial yang terus berubah merupakan fondasi penting yang tak bisa diabaikan. Ia menilai masih ada sebagian warga dan pengurus NU yang memandang organisasi ini sebagai entitas yang terpisah dari masyarakat luas. Padahal, cara pandang semacam itu sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Gus Yahya kemudian mengulas situasi pada dekade 1990-an, ketika pesantren dan NU masih memiliki batas kultural yang relatif jelas dengan dunia luar. Pada masa itu, Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahkan menyebut pesantren sebagai sebuah subkultur. Para kiai berperan sebagai cultural broker yang menyaring pengaruh luar sebelum diterima oleh komunitas santri dan warga NU.

Namun, realitas tersebut kini telah berubah drastis. Gus Yahya mencontohkan munculnya santri perempuan dari daerah yang mampu membentuk grup band metal dan tampil di panggung internasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa tembok kultural antara pesantren, NU, dan dunia luar telah runtuh.

“Sekarang tembok itu sudah tidak ada. Orang bisa bergaul sendiri, berpikir sendiri. Ini realitas yang harus kita sadari,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya menilai bahwa teori pesantren sebagai subkultur hampir tidak lagi ditemukan dalam kehidupan sosial hari ini. Dunia bergerak menuju satu peradaban global yang saling berkelindan. Dalam konteks ini, generasi muda termasuk generasi Z cenderung memiliki cara pandang yang relatif serupa terhadap kehidupan dan agama, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.

Tantangan inilah, menurut Gus Yahya, yang harus dijawab NU secara serius agar tetap relevan dan mampu memainkan peran strategisnya di masa depan.
 



ARTIKEL TERKAIT