- 27 Juli 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar Ke-35 NU semakin dinamis. Salah satu tokoh yang menyatakan kesiapannya maju adalah Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, yang menegaskan akan menerima pencalonan apabila mendapat amanah dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Menurut Kiai Zulfa, kepemimpinan di Nahdlatul Ulama bukanlah sesuatu yang dikejar, melainkan amanah yang harus dijalankan ketika diminta oleh organisasi.
"Kalau aspirasi dari cabang dan wilayah meminta, itu sangat kuat. Saya tidak bisa menolak," ujar Kiai Zulfa saat menghadiri Bedah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026).
Pernyataan tersebut menambah dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.
Selain Kiai Zulfa, sejumlah nama lain juga disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, yakni Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi.
PBNU, Kawah Candradimuka Pengabdian
Kiai Zulfa mengungkapkan, dirinya telah mengabdi di PBNU sejak 2010. Selama itu, ia dipercaya mengemban berbagai amanah, mulai dari Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Katib Syuriyah PBNU, hingga kini menjabat Wakil Ketua Umum PBNU.
Bagi cicit ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani itu, PBNU bukan sekadar organisasi, tetapi tempat menempa kapasitas keilmuan, kepemimpinan, dan tradisi intelektual.
"PBNU adalah kawah candradimuka saya. Di sanalah saya belajar ushul fiqih, belajar ketelitian menulis, dan belajar cara berpikir para masyayikh," tuturnya.
Ia menilai seorang pemimpin NU harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan kemampuan membaca persoalan sosial yang dihadapi umat.
"Seorang pengurus NU harus menjadi faqihun bi umuri dinihi sekaligus khabirun bi mashalihi khalqihi," katanya.
Menurutnya, pemimpin NU tidak cukup hanya memahami persoalan keagamaan, tetapi juga harus mampu merumuskan solusi atas berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan yang dihadapi masyarakat.
Dorong Kepemimpinan yang Fokus Berkhidmah
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zulfa juga menyampaikan pandangannya mengenai arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama ke depan. Ia menilai NU membutuhkan pemimpin yang dapat mencurahkan perhatian secara penuh kepada jam'iyah.
Karena itu, ia berpandangan kader yang saat ini mengemban amanah di pemerintahan maupun partai politik sebaiknya tetap fokus menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepada mereka.
"Yang sudah di partai biarkan di partai. Yang sudah jadi menteri biarkan di kementerian. Tidak perlu dipaksa kemudian harus memimpin NU," ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi keilmuan, literasi pesantren, dan penguatan kapasitas kader sebagai fondasi utama pengembangan organisasi.
Dukungan dari Berbagai Daerah
Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab) mengungkapkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir aspirasi dari berbagai PWNU dan PCNU terus mengalir agar Kiai Zulfa bersedia maju dalam Muktamar Ke-35 NU.
Menurutnya, banyak pengurus di daerah yang menilai pengalaman organisasi dan kapasitas keilmuan Kiai Zulfa menjadi modal penting untuk memimpin PBNU ke depan.
"Beberapa bulan terakhir banyak pengurus wilayah dan pengurus cabang yang datang langsung kepada Kiai Zulfa dan meminta beliau ikut mengambil bagian dalam proses suksesi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama," ujar Gus Aab.
Kiprah Kiai Zulfa
KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia dikenal sebagai ulama yang mendalami kitab kuning, ushul fikih, serta sastra Arab. Atas kontribusinya di bidang keilmuan, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ia merupakan putra KH Muqarrabin dan Nyai Hj Marhumah Latifah, serta keponakan Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin.
Pendidikan agamanya ditempuh di Pondok Pesantren Mathali'ul Falah Kajen, Pati, di bawah bimbingan KH MA Sahal Mahfudh dan KH Rifai Nasuha. Setelah wafatnya sang ayah pada 1996, Kiai Zulfa memilih melanjutkan perjuangan keluarga dengan berdakwah dan mengajar di berbagai majelis taklim.
Pada tahun 2000, ia mendirikan Majelis Taklim Darul Musthofa, yang hingga kini menjadi salah satu pusat dakwah dan pendidikan Islam.
Selain aktif berdakwah, Kiai Zulfa juga dikenal produktif menulis. Di antara karya monumentalnya adalah Ithafu Ummati Al-Muqtafa, yang membahas fikih, ushul fikih, dan biografi Syekh Nawawi al-Bantani, serta Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi lil Muta'afqih Jahlih yang mengulas metodologi fatwa dan hukum Islam.
Dengan pengalaman panjang di PBNU, latar belakang pesantren yang kuat, serta dukungan yang mulai bermunculan dari berbagai daerah, nama KH Zulfa Mustofa kini menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU.